hendri's posts with tag: pendakian bersama
|  | Kudiam dalam dekap heningmu kuresapi dingin kabutmu kunikmati pedar rembulanmu Mandalawangi...,kau buat ku merindu |
“udah di tol TB Simatupang, bentar lagi nyampe. Aku naik taxi jadinya”, demikian sms yang saya terima dari Joan. Selain Joan, Anno dan Rita juga belum muncul. Teman-teman peserta ultralight hiking ke Gunung Pangrango lainnya sudah stand by di Terminal Kampung Rambutan. Kali ini memang perjalanan yang kami rencanakan adalah ke Gunung Pangrango yang berada dikawasan TNGP, dan karena adanya aturan baru yang hanya membolehkan pengunjung untuk menginap didalam lokasi TNGP hanya semalam dan tidak boleh lebih ini akhirnya membuat saya menerapkan prinsip ultralight hiking dalam perjalanan bersama kali ini. Ada banyak sekali pemahaman tetang prinsip Ultralight hiking ini, namun yang jelas adalah suatu prinsip yang mengutamakan bobot yang enteng dan multifungsi serta juga inovatif pada peralatan yang digunakan selama perjalanan pendakian. Minimalis disini bukan berarti mengabaikan keselamatan akan tetapi tetap jenis peralatan yang dibawa sama saja dengan peralatan pendakian gunung lainnya hanya saja lebih ringan, kompak dan multifungsi. Tak lama kemudian Joan muncul dengan ranselnya, mhmmm sedikit gede ya…. Dan kemudian terakhir nongol Anno dan istrinya Rita. Lengkap sudah kami semua, dari Jakarta ada saya, Maman, Budi, Andi, Asep, Rico, Hermon, Ricky, Reza, Nancy, Joan, Anno, Rita dan the pair always yaitu Ella dan Irfan. Dari bandung the pair always juga yaitu Dipa dan Dian, dari Bogor sedianya Danis dan Ike tapi Ike mendadak batal karena ikut dengan teman-temannya, tujuan nya masih sama yaitu Gunung Pangrango, yang istimewa adalah Heru owner dan moderator milis highcamp ikut mengantar kami hingga ke Cibodas. Perlahan bus Ekonomi tujuan Garut via puncak bergerak meninggalkan terminal jarum jam sudah menunjukan pukul 9 lewat, namun supir bus ini rupanya senang sekali ngetem disetiap perapatan pasti behenti dan akhirnya setelah ngetem cukup lama barulah bus melaju dengan kecepatan normal membelah udara dingin malam kawasan puncak. Saya mencoba meneruskan tidur yang tadi terganggung saat bus ngetem di Ciawi, tapi tak kunjung berhasil, hingga akhirnya bus mendekati kawasan Cimacan tepatnya pertigaan Cibodas dimana kami harus turun., dan kemudian dilanjutkan dengan angkot hingga ke warung mang Idi yang akan menjadi tempat peraduan kami malam ini hingga esok hari. Sekitar jam 5 pagi kami semua sudah mulai siap-siap, di luar warung tampak Ori dan Leo masih asyik ngobrol. Semalam Ori (owner dan moderator milis HC) datang menyusul ke Cibodas bersama 2 orang temannya dan Leo yang datang bersama Suwasti juga akan mendaki ke Pangrango. Leo dan Suwasti bersama dua orang temannya yang lain akan mendaki Pangrango tapi bukan ala UH seperti kami. Sekitar jam 6.30 kami mulai bergerak menuju pos TNGP dan setelah lapor kami memulai perjalanan ini dilepas oleh dua orang owner dan moderator milis HC yaitu Ori dan Heru. Pagi ini udara tidak begitu cerah, kabut menggantung di puncak Pangrango, perjalanan terasa begitu enteng bagi saya, ya mungkin karena beban dipunggung yang Cuma 11 kg membuat langkah jadi enak dan juga saya bisa lebih enjoy dengan suasana hutan TNGP pagi itu. Semakin siang rombongan mulai terpecah menurut kelompok sesuai dengan kecepatan masing-masing. Manurut rencana tadi sewaktu briefing sebelum berangkat kami akan makan siang di Kandang Badak. Sementara cuaca semakin gelap oleh kabut dan benar saja sewaktu mendekati daerah kandang Badak hujan turun membasahi kami, untunglah kami membawa payung karena sebelum berangakt kami mendapat informasi bahwa di kawasan TNGP hingga saat ini masih sering turun hujan. Sekitar jam 12 siang satu persatu dari kami mulai bermunculan di Shelter Kandang Badak, hujan semakin deras. Kami membuka nasi bungkus bekal makan siang kami yang sudah kami siapkan semenjak dari warung Mang Idi tadi pagi, dan buat saya sebagai menu tambahan lalapan daun Pokpohan yang banyak terdapat di TNGP ini menjadi teman lauk lainnya berserta nikmatnya sambal bajak. Perut yang sudah keroncongan segera terisi nasi dan selesai makan penyakit kantuk mulai menyerang dan di perparah oleh hujan yang membuat suhu menjadi dingin semakin membuat mata ini menjadi berat dan ingin tidur. Tapi tidak bisa, karena shelter Kandang badak ini sangat kotor dan becek, jauh dari kata nyaman tidak seperti shelter kandang badak ditahun 80an dulu sangat bagus berupa pondok ala rumah panggung yang terbuat dari kayu, nyaman dan hangat. Jam 1 siang hujan sudah mulai agak reda dan kamipun kembali melanjutkan perjalanan, tapi kondisi jalan trek menuju puncak pangrango sungguh diluar dugaan, banyak sekali pohon tumbang yang menghalangi jalan sementara hujan yang kembali turun cukup membuat kami kewalahan melewati rintangan alam berupa pohon tumbang dan semak belukar yang menutupi jalan setapak. Belum lagi jalur yang tadinya melingkar-lingkar untuk meminimalisir tanjakan terjal sekarang sudah tertutup dansebagai gantinya jalur potong kompas direct yang terjal bertanah serta licin dan dipenuhi oleh akar pohon dan tak jarang bahkan batang pohon yang malang melintang, membuat beberapa teman yang tidak mengunakan prinsip UH (baca: pake ransel besar) sepertinya harus terbungkuk-bungkuk di areal itu. “emang lewat sini nih bang jalurnya.??” Teriak Irvan memandang jalur bertanah tegak lurus didepannya dengan pandangan putus asa. “Ya ada sih jalur lamanya tuh yang sebelah sana tapi kayaknya dah ketutup semak,” jawab saya sambil menunjukan jalur melingkar sebelah kiri saya. Sedangkan saya dan Ella memilih jalur direct bertanah ini saja. Sesekali saya berteriak untuk mengukur jarak teman-teman dibawah kami, karena saat ini saya, Irfan, Ella, Nancy dan Ricky ada didepan dan tidak jauh dibawah ada maman, Anno dan Rita. Terdengar dua teriakan sahutan, yang satunya agak dekat dan satunya lagi cukup jauh. Mhmm rupanya rombongan belakang agak jauh tercecer. Akhirnya kami yang didepan memutuskan untuk menunggu di puncak saja. Dan sekitar jam 4 sore, rombongan pertama kami sampai dipuncak sempat berfoto sebentar dan udara makin dingin saya memutuskan untuk menunggu di Mandalawangi saja agar bisa mendirikan tenda dalam keadaan masih siang dan jika teman-teman datang minimal sudah ada tenda yang berdiri. Mandalawangi kami raih saat kabut menggantung diatas pucuk-pucuk edelweiss yang bertebaran di tanah lapang ini, kuncup-kuncup daunnya basah oleh tetesan air hujan. Kesegaran bunga abadi perlambang cinta sejati ini semakin menyulut semangat dan kegembiraan saya. Kami mendirikan tenda diantara pepohonan edelweiss, sayang sekali saat ini bukan musimnya bunga abadi ini mekar jadi semerbaknya tidak terpancar ke penciuman kami. Tak lama berselang tenda berdiri, muncul Joan dengan Budi. Tampak Budi lemas sekali dan benar saja menurut informasi Joan dia sempat muntah-muntah di jalur trek tadi, dia langsung masuk kedalam tenda Maman dan beristirahat. Setelah saya perhatikan kondisinya sepertinya dia masuk angin dan kelelahan saja. Menjelang magrib semua rombongan telah sampai Mandalawangi. Saya dari siang tadi waktu istirahat makan siang di kandang Badak dilanda kantuk yang lumayan berat, mungkin karena semalam hanya sempat tidur 2 jam. Akhirnya saya mencoba tidur sejenak, dan tak disangka terlelap hingga jam 8 malam, baru terbagun saat saat mendengar suara Joan yang menawari Nancy makan. “lapar juga,” gumam saya perlahan. Dan akhirnya saya bangun untuk masak, dan setelah the manis hangat saya seduh mulailah saya memasak nasi dan kemudian merebus buncis sebagai lalapan. Lauk pauknya saya sudah menyiapkan lauk mateng yaitu rendang dan orek tempe campur kacang tanah dan teri, dan tak lupa sambal bajak untuk cocolan lalapan. Semua tenda sudah tertutup rapi kecuali tanda saya yang masih ada aktivitas. Agaknya selagi saya tidur tadi mereka sudah masak dan makan. Saya perhatikan kabut mulai menghilang, dan suasana hening di Mandalawangi benar-benar sempurna saat itu tidak ada angin dan suara binatang malam. Langit tampak gelap tapi sedikit baisan rembulan menyembul menambah nikmatnya kesuyian di lembah yang dicintai oleh banyak pendaki ini, termasuk Joan salah seorang pendaki dalam kelompok saya. “aku tuh belum pernah nginep di Mandalawangi sebelumnya, dan sekarang kesampaian,” ujar dia terlihat gembira saat membicarakan hal tersebut keesokan harinya. Tak lama kemudian nasi saya mateng dan ternyata saya masaknya kelebihan, tidak apalah buat besok pagi kalo ngga habis hibur saya pada diri sendiri. Nikmat sekali makan malam sederhana ini ditengah sunyinya Mandalawangi. Dan perlahan rembulan menampakan dirinya. Dan sosok Mandalawangi malam itu perlahan terkuak. “Perfect…” ujar saya perlahan. Ya sempurna perjalanan ini, “Ada hujan….., ada kabut….., ada rembulan di Mandala wangi.” Kembali saya bergumam sendiri. “Sayang sekali kau tak disini…” kali ini hati kecil yang bergumana… Selesai makan saya mencoba untuk berbaring, tapi susah sekali tidur. Laaamaaaaa baru akhirnya tertidur juga, itupun setelah menghayalkan bermacam-macam hal termasuk kamu yang tidak disini. Pagi masih dingin, dan terdengar suara Joan yang gembira sekali berada di Mandalawangi ini, agaknya itu anak cinta banget sama tempat ini seperti halnya mendiang Soe Hok gie yang namanya tak seakan menyatu dengan Mandalawangi ini. Hal tersebut tertuang dalam puisinya yang berjudul "Mandalawangi - Pangrango". Senja itu, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu aku datang kembali ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu. Walaupun setiap orang bicara tentang manfaat dan guna, aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan dan aku teima dalam keberadaanmu seperti kau terima daku. Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada Hutanmu adalah misteri segala, cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta Malam ini ketika kebisuan menyelimuti Mandalawangi, kau datang kembali dan bicara tentang kehampaan Hidup adalah soal, keberanian, menghadapi yang tanda tanya Tanpa kita bisa menawar “ Terimalah dan Hadapilah ! “ Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara, aku terima semua itu melampaui batas hutan-hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu. Aku cinta padamu Pangrango, karena aku cinta keberanian hidup ! Jakarta, 19 Juli 1966 Soe Hok Gie Seperti biasa kegiatan pagi di areal camp Ultralight Hiker ini mulai hidup bunyi dentingan periuk trangia dan raungan kompor gaz Primuss seakan mengisi suasana pagi di tempat sunyi ini. Sesekali gerimis masih turun namun, sempat sejenak mentari muncul malu-malu dan kemudian hilang lagi ditelan mega yang berarak. Satu tim pendaki lain sapai pagi tiu di Mandala Wangi, rupanya Emma dan kawan-kawan, saya sempat menayakan Danis salah satu peserta UH yang tercecer di jalan dan ditunggu disetiap tikungan tapi ngga nongol juga. Rupanya Danis gabung dengan kelompok Emma, dan menginap di Kandang Badak tapi dia tidak meneruskan ke Mandala Wangi, syukurlah ujar saya mendengar informasi tersebut. Bersamaan dengan kami ada beberapa kelompok pedaki yang mengunjungi gunung ini yaitu kelompok Emma, kelompok Ike dan Kelompok Suwasti, dan semuanya merupakan teman-teman kami juga. Hanya yang terlihat di Mandala Wangi pagi ini, kelompok Emma dan Ike saja, sedangkan Suwasti tidak kelihatan batang hidungnya. Kabut kembali menyelimuti areal Mandala Wangi, saat kami bergerak meninggalkannya dan setelah berfoto bersama di puncak kami segera turun. Tidak ada yang istimewa selama perjalanan turun, hanya kondisi jalur trek yang hancur membuat kami ekstra hati-hati saat melangkah. Di air panas secara tak terduga saya bertemu teman lama yang saya kenal di gunung Salak, Pak Bambang pria yang sudah cukup berumur ini tampak masih seger dan kuat menapaki tanjakan-tanjakan gunung. Di lokasi ini kami beristirahat sembari menunggu teman dibelakang. Sempat terdengar berita Anno kakinya oglek (ngilu dilutut saat dibengkokan menuruni jalan setepak), wah pasti dia akan lama jalannya, pikir saya. “udah jalan duluan aja ntar dia gue tungguin” ujar Rico menawarkan bantuan saat teman-teman yang lain mulai beranjak meneruskan perjalanan turun. “ya udah kalo gitu , tolong ya Ric” pinta saya pada Rico. Selain Rico Reza juga menderita kaki oglek Akhirnya saya dan teman-teman sampai di Pos lapor Cibodas jam 5 sore, setelah berkali-kali istirahat menunggu teman-teman dibelakang namun tak kunjung muncul. Setelah lapor sama petugas volunteer, dan menginformasikan nama-nama yang dibelakang, lalu kami bergerak turun menuju warung Mang Idi di parkiran Cibodas untuk bersih-bersih dan istirahat menunggu teman-teman di belakang. Satu persatu teman-teman muncul dan yang paling terakhir muncul adalah Anno, Rita dan Reza, jarum jam saat itu sudah menunjukan jam setengah tujuh lewat. Semua kumpul kembali dan bersiap-siap untuk kembali kepada kesibukan rutin setiap harinya. Perjalanan ultralight ini cukup sukses meskipun masih ada teman-teman yang memakai peralalatan yang bukan ultralight, tapi apa boleh buat toh saat ini peralatan UH masih susah didapat di Indonesia, dan mudah-mudahan produsen peralatan pendakian lokal melihat kesempatan ini dan mulai membuatnya. (Foto-foto by: Ella dan Rico)
| Start: | Apr 12, '08 | | End: | Apr 13, '08 | | Location: | Gunung Pangrango |
Pendakian dengan ultralight style ke gunung gede ngga jadi karena banyak yang minta ke Pangrango terus tahun lalu kita juga dah pernah Ultralight ke Gede, jadi akhirnya diputuskan ke pangrango saja. detail klik link berikut http://groups.yahoo.com/group/highcamp/message/22771
Pagi yang basah saat bus yang saya tumpangi memasuki terminal bus Wonosobo, masih pagi sekali dan terminal terlihat sepi, teman-teman masih ada yang terbengong-bengong karena baru bangun tidur mungkin tingkat kesadarannya masih setengah. Saya menggendong ransel 80 liter saya menuju bus tiga perempat yang sudah menunggu disamping, bus yang bertrayek Wonosobo – Magelang ini akan kami tumpangi hingga sampai di desa Kledung tempat titik awal pendakian ke Gunung Sindoro di mulai. Kami berjumlah lebih dari dua puluh orang dan berencana akan merayakan tahun baru 2008 di puncak Sindoro. Tak kala bus melaju tampak sosok Sindoro di sebelah kiri, puncaknya tertutup awan yang menggantung, sepertinya awan hujan. Sekarang musim hujan jadi saya dan teman-teman dah ngga berharap banyak akan mendapatkan cuaca bagus terlebih lagi juga musim badai. Bus terus melaju, hingga akhirnya kami turun di Kledung dan langsung menuju Basecamp Sindoro yang di kelola sekarang oleh seorang pemuda bernama Ragil. “Mas Ragil ya?” ujar saya saat menyalami seorang pemuda yang keluar dari dalam rumah. “betul mas”, jawabnya sembari tersenyum. “Dari jakarta ya? Berapa orang? Mau naik hari ini?” lanjut pertanyaannya beruntun dan akhirnya saya dan dia tenggelam dalam percakapan mengenai rencana pendakian dan keadaan Gunung Sindoro sekarang, sementara teman-teman mulai sibuk repacking, mengeluarkan barang yang tidak penting untuk di titipkan di basecamp ini karena kami turunnya kembali lewat Kledung ini. Ini adalah kunjungan saya yang kedua ke gunung ini, yang pertama pada tahun 1988, kondisi Kledung jauh berbeda sekali dengan sekarang, dan menurut cerita Ragil, perladangan penduduk juga sudah jauh naik keatas. Dewasa ini dari Basecamp hingga ke pos bayangan pos 1 bisa ditempuh dengan ojek dengan tariff sepuluh ribu rupiah. Kalau ditempuh dengan jalan kaki kurang lebih 2 jam perjalanan dan terdapat empat pos pada jalur pendakian kledung, hanya pada lokasi pos empat tidak begitu jelas letaknya. Sekitar jam 9 pagi jalan setapak jalur pendakian menuju pos 1 sudah dipenuhi oleh langkah-langkah kami yang bersemangat. Pendakian kali ini ada dua milis yang bergabung, yaitu milis highcamp yang terdiri dari saya, Dipa, Arif, Rona, Dian, Dwi, Ayip, Ella, Irvan, Anno, Rita, Taufik dan Ephot, dari milis Jejak Petualangan ada Nhanha, Kris, Yani dan Bayu. Disamping Ephot juga ikut teman-temannya enam orang, jadilah rombongan kita telah membuat ramai basecamp Sindoro pagi tadi dan sempat membuat sibuk ibu-ibu disana saat kami memesan makan pagi untuk porsi lebih dari dua puluh orang. Pos 1 ke Pos 2 terasa tidak begitu jauh, mungkin itu hanya bagi saya entah bagi teman-teman yang lainnya, seperti biasa perlahan teman-teman mulai terpecah menjadi tiga kelompok jalan, yang cepat, yang sedang dan yang pelan. Namun target perjalanan kami hari ini adalah Pos 3 disana kami akan mendirikan tenda dan bermalam. Kami ingin melakukan pendakian ini dengan santai dan tidak terburu-buru. Jalur pendakian gunung Sindoro lumayan tajam tanjakannya dan medannya cukup terbuka, sayang kabut terus menemani kami sehingga sosok kembarannya yaitu Gunung Sumbing yang tegak berdiri di belakang arah pendakian kami tidak bisa terlihat. Sekitar jam 2 siang kami sampai di Pos 3, lokasi pos ini cukup besar dan bisa menampung beberapa tenda kami, meskipun kami tidak bisa berkumpul semua tapi ada setidaknya 6 tenda yang bisa didirikan berdekatan. Masih banyak waktu sebelum gelap, begitu tenda berdiri saya menyantap nasi bungkus yang di beli di kledung tadi, lapar sekali kalo harus masak dulu sepertinya ngga sanggup menunggunya. Dalam hitungan menit nasi bungkus berlauk telor ceplok dan sayu tempe tersebut sudah berpindah keperut saya dan lalu saya meluruskan kaki duduk didalam tenda sementara diluar sana kabut makin tebal, angin mulai bertiup dan benar saja berikut pasti gerimis menyusul, untunglah teman-teman semuanya sudah selesai mendirikan tenda. Dipa mulai aktifitasnya memasak ditandai dengan bunyi panci trangianya yang beradu saat menyiapkan kompor, tenda nya Ella sepertinya juga begitu, saya juga mulai memasak air dengan di bantu oleh Rona. Teh manis panas pasti akan nikmat sekali di suhu yang seperti ini. “wah lumayan pemandangannya, kabut tersibak dikit nih..!!” teriak seseorang dari luar tenda, saya bergegas membuka pintu tenda yang mengarah persis ke arah Gunung Sumbing, dan bener saja sedikit sosok Gunung Sumbing terlihat dan beberapa kampung dibawah sana, lumayanlah cukup untuk memulai sesi foto-foto, dan tanpa dikomando satu persatu teman-teman keluar dari tendanya dan mulai sibuk dengan cameranya masing-masing. Saya mengedarkan pandangan ke arah puncak, dari pos 3 ini puncak tidak kelihatan tertutup oleh punggungan, yang juga ditutupi kabut dan hanya terbuka sesekali, angin bertiup cukup kencang. Ada sepuluh tenda dari rombongan kami, dua tenda yaitu tenda Dwi dan tenda Yani berada dalam dalam semak belukar agak tersembunyi, satu tenda lagi yaitu tenda Taufik member milis HC dari Malang, berada diatasnya masih dalam rimbun belukar. Kemudian tenda Ephot dan teman-temanya ada disebuah pelataran berdampingan dengan tenda pendaki lain yang bukan rombongan kami, dan enam tenda lainnya berdiri berdekatan di daerah yang cukup terbuka. Pos 3 dipilih sebagai lokasi ngecamp adalah karena hanya di daerah ini yang bisa menampung tenda cukup banyak, selepas pos 3 ini tidak ada lagi tempat yang cukup untuk menampung rombongan sebanyak rombongan kami. Dari Pos 3 hingga kawasan puncak masih berjarak sekitar 5 jam waktu tempuh jadi jika diukur dengan jalan santai kami akan molor menjadi 8 jam. Sindoro tidak ada sumber air, jadi untuk bekal memasak dan minum kami memang sengaja membawanya dari Kledung, jika musim hujan begini terdapat genangan air mirip telaga di dalam kawah. Dan bisa digunakan untuk memasak, jadi untuk persediaan air pas bermalam di kawasan puncak esok hari saya tidak terlalu khawatir. Cukup lama diluar dan kemudian saya kembali kembali kedalam tenda, “masak apa bang?” Tanya Rona saat duduk didekatnya, “pokoknya yang enak deh” jawab saya sembari nyengir. Lalu mulailah sesi acara masak bersama Rona, Dipa dan Dian hebohnya melebihi acara masak Wok With Yan yang terkenal itu. Diluar juga kabut dan angin tidak kalah hebohnya menemani kami di Pos 3, senja perlahan turun rintik hujanpun kadang turun dan berhenti silih berganti. Rona sigap sekali menyiapkan masakan, nasi sudah tanak dan sekarang giliran lauknya, hari ini kami memasak tumis buncis dicampur jagung muda dan dilengkapi dengan telur serta ikan asin, sosis goreng sebagai pelengkap. Tidak begitu lama kemudian hidangan pun siap disantap, sederhana tapi terasa nikmat sekali. Karena cuaca yang tidak mengijinkan akhirnya kami tidak jadi memasak berbarengan dengan teman-teman yang lainnya. Hujan turun semakin deras, “Nhanha mana perkedelnya..?? dah mateng belum?.!! Teriak saya dari dalam tenda, “udah bang, tapi ambil sendiri nih ngga ada delivery service..” jawab Kris, ya hujan-hujan begini jadi males keluar tenda. Hujan semakin lebat diikuti oleh angin dan suara gledek, tenda saya dan Dipa disatukan dengan sebuah flysheet dan dari sana mengucur deras air hujan, saya menarok beberapa misting dan Dipa menarok jerigen air lipatnya, lumayan setidaknya bisa dipakai masak dan cuci-cuci. Angin yang kencang berubah jadi badai, saya mengintip keluar tenda semua putih tertutup kabut alias zero visibility, brrr…. Angin menyeruak masuk tenda, buru-buru saya tutup lagi, kalo begini gagal deh bikin foto glowing tent sindoronya aku membatin sendiri sembari nyengir. Seiring jatuhnya malam dan hujan makin lebat badai semakin kencang, saya diam didalam tenda yang hanya bergetar di terpa badai, ini adalah pengalaman yang kesekian kalinya bagi saya di hantam badai di gunung. Suara hujan, dan kepakan tenda serta flysheet menjadi musik pengiring tidur malam ini dan perlahan suara tersebut menjadi lenyap seiring dengan lelapnya tidur malam itu. Hari kedua digunung Sindoro, pagi ini tidak aktifitas lain kecuali seputar masak sarapan pagi dan foto-foto, Kabut hanya sesekali beranjak, “bang sory, gue dan teman-teman ngga jadi ngecamp di puncak, gue nga yakin sama tenda gue bang, jadi nanti muncak lansung turun dan kita mau lanjut ke Dieng” jelas Ephot sambil menjabat tangan saya untuk pamitan. “Ok no problem Phot, take care aja, semua temen elo ngikut ya?” jawab saya sembari melihat kearah teman-teman Ephot yang sudah siap packing dan sudah bersiap hendak muncak. Dan rupanya Yani dan Taufik juga ikut dengan mereka, “gue juga ngga jadi ngecamp di puncak, gue juga ngga yakin sama tenda gue.” Jelas Anno juga mengikuti langkah yang di ambil Ephot. Memang tenda milik Ephot dan Anno ngga cocok dipakai gunung saat cuaca lagi banyak angin begini, karena tenda mereka merupakan tenda camping, kapasitas 4 orang dan konstruksi tendanya cukup tinggi sehingga merupakan sasaran empuk bagi angin. Total yang mundur untuk ngecamp di puncak ada sepuluh orang, sementara sisanya, tetap akan ngecamp di puncak dan merayakan tahun baru disana. Rute pendakian selepas Pos 3 benar-benar menguras tenaga karena selain curam dengan kemiringan kadang mendekati delapan puluh derajat, juga licin dan berbentuk parit-parit yang terbentuk karena aliran air hujan, jadi bisa dibayangkan jika hujan pasti jalur ini akan menganak sungai dan akan susah sekali untuk di tempuh. Kabut kembali menutupi sosok Sindoro, kami bergerak perlahan menuju puncak, jalurnya makin terjal dan penuh dengan batu-batu licin. “Naiknya enak, turunnya… gawat nih bang..” komentar Rona saat kami melewati satu tanjakan yang cukup terjal. Saya dan rona serta Dwi ada di urutan tengah, sementara di depan ada Ella, Irvan, Dipa dan Dian, dan saya yakin saat ini pasti mereka sudah berada dikawasan puncak sekarang. Mendekati daerah Pos 4 kami bertemu dengan rombongan Ephot dan Anno, mereka bilang puncak berkabut dan badai, setelah ngobrol sebentar lalu mereka turun dan kami bertiga melanjutkan pendakian. “gue nunggu Ayip dulu, elo duluan deh” kata Dwi sembari duduk istirahat, saya melihat kebelakang Ayib memang tidak begitu jauh, jadi kemudian saya dan Rona terus melangkah, “kita harus nguber yang didepan takutnya mereka ngga tau tempat mendirikan tenda” kata saya ke Rona dan dia mengangguk setuju. Memasuki kawasan puncak badai kecang sekali dan kabut membatasi pemandangan, tapi samar-samar terlihat Dipa dan Dian tengah berusaha mendirikan tenda dan tidak jauh dibawahnya ada Ella dan Irvan melakukan hal yang sama, “Ooiiii, jangan disini disebelah sana ada dataran yang bagus spotnya, kalau elo diriin disini yang lain ngga bakal bisa dan anginnya juga keceng banget..!!” teriak saya sembari berusaha mengalahkan gemuruh suara badai. Benar-benar “the perfect storm” gumam saya dalam hati. Waktu ke merbabu kemaren juga badai tapi badai di Sindoro ini lebih kencang. Setelah membantu ella dan Irfan, kami menuju lokasi camp yang saya temukan disisi sebelah kiri dari puncak. Badai ini pasti akan menyulitkan kami mendirikan tenda, “biar mudah kita dirikan tenda satu-satu dengan jalan keroyokan, jadi tenda akan lebih mudah didirikan, dan jangan lupa pasang tenda dengan benar, patoknya pasang semua termasuk tali-tali guys lines nya”, ujar saya sedikit memberi komando biar teman-teman cepat bergerak. Dan satu persatu tendapun berdiri, “yang kenceng…!!!! Jangan kendor, bikin ngacenggg…!!” teriak saya agar teman-teman memasang tenda dengan benar dan tidak kendor, memasang tenda kendor ditengah badai akan berpotensi tenda tersebut akan robek oleh badai. Produsen tenda membuat tali-tali pengaman dan pasak-pasak pengaman adalah agar tenda bisa berdiri tegak meski badai menerjang. Kegiatan di alam bebas memang cocok sekali membangun semangat team work dan ini terlihat sekali sewaktu kami mendirikan tenda di tengah badai waktu itu, kelihatan sekali siapa yang punya jiwa pemimpin, siapa yang cepat tanggap dan bisa bekerja sama serta akan kelihatan juga siapa yang rada lemot dan daya inisiatif nya lambat seperti kura-kura. Saat mendirikan tenda milik Dwi, ada sedikit keganjilan, benar saja rupanya frame tenda ini terlalu pendek dan tenda ini berdiri sangat tidak sempurna sekali, saya ngga yakin ini tenda bisa bertahan dalam badai yang seperti ini. Ayip yang bawa tenda ini saat saya konfirmasi mengenai pasak dan tali-tali tenda tampak kebingungan, “wah ngga tau nih gue hanya bawa doang..”. apa boleh buat tenda tersebut jadi seperti penyanyi dangdut bergoyang-goyang ditiup angin. “Dwi…Dwi… oiiiiiiii “ teriak saya melawan suara badai, saya kembali kejalur trek untuk menyusul Dwi yang belum sampai, menurut Ayip Dwi ngga begitu jauh dia tinggalkan tadi, terdengar teriakan sahutan, dan saya bergegas turun sekitar jarak 100 meter saya bertemu Dwi, kemudian dia saya antar hingga ke lokasi ngecamp, badai masih kencang. Saya ajak Kris untuk menemani saya menyusul Arif dan Bayu yang juga belum sampai. Namun di daerah puncak saya bertemu Bayu, “Arif mana Bay?” Tanya saya, “masih dibawa bang,” jawabnya “jauh ngga?” lanjut saya lagi.. “ngga terlalu jauh deh..” jawab dia. “Ok elo ambil terus jalan kekiri dan ntar belok kiri turun ya lokasi camp kita ada di situ, gue berdua mau nyusul Arif dulu.” Jelas saya pada Bayu sembari turun ke jalur setapak bersama Kris untuk menyusul Arif. Kami bertemu Arif juga tidak jauh dari puncak. “sini gue bawain ransel elo” tawar Kris pada Arif, “boleh, thanks ya” Arif menyerahkan ranselnya pada Kris dan bersama kami kembali ke lokasi nenda dan bersama-sama mendirikan tenda Arif. Selepas mendirikan tenda Arif, hujan gerimis turun, meskipun gerimis kecil tapi karena disertai badai membuat bunyi gerimis tersebut terdengar santer menghempas tenda. Semua sudah di tenda masing-masing, entah apa yang dikerjakan mereka, saya sendiri sudah masuk ke sleeping bag, Rona sedari tadi dah sibuk masak Indomie, “bang aku tadi sempat terkena Hypo ringan, jari tanganku beku semua” kata Rona, “elo kan punya sarung tangan kok ngga dipakai?” tanya saya. Dia Cuma tersenyum sembari mengaduk-aduk mie. Badai kencang masih bertiup suara kepakan tenda Dwi keras sekali terdengar layaknya kibaran bendera, sesekali saya mengintip keluar dari tenda memperhatikan semua tenda, Tenda linchfield nya Nhanha kokoh berdiri, tampak tenda Coleman Arif juga cukup kuat karena diberi pemberat batu pada ujungnya. Sementara tiga tenda lainnya memang dirancang buat badai jadi saya tidak begitu menaruh perhatian. Semakin malam badai terus menghajar tenda-tenda kami. “Arif …. Gue pindah ketenda elo ya…!!” suara teriakan dari tenda sebelah dan ternyata suara Ayip, “Okeeeeeehhhhh” terdengar suara Arif berteriak menjawabnya, “wah bang itu suara Ayip tuh, wah pasti next mba Dwi yang teriak nih..hehehehe” kata Rona sembari nyengir…. Saya hanya senyum dan memang saya sudah perkirakan, karena melihat kondisi tenda Dwi yang sama sekali tidak cocok dalam situasi badai kecang seperti ini. Dan benar saja tak lama kemudian.., “Hendriiiiii, gue pindah ketenda elo…..” teriakan Dwi dan dia dah nongol di pintu vestibule tenda. “ayo masuk Dwi…., sorry masih berantakan” sambut saya. “Gila badainya tenda gue sampai banjir…” keluh Dwi. Badai malam ini memang benar-benar “The Perfect Storm”. Diluar terdengar suara pendaki lain yang baru sampai dan sibuk mendirikan tendanya, sebelumnya ada juga beberapa pendaki lain yang mendirikan tenda persis di belakang tenda saya. “Dimasakin Indomie mau mba?” tanya Rona sama Dwi, “boleh deh” jawab Dwi. Badai terus membuat tenda bergetar, untunglah konstruksi tenda yang memang dirancang untuk pendakian gunung ini bisa tetap membuatnya tegap berdiri. “Oiii.. tenda Mba Dwi udah kolaps…!!!” teriak sebuah suara dari luar, dan benar saja saat saya mengintip dari pintu tenda terlihat tendanya Dwi sudah rata dengan tanah. “benar-benar the perfect storm” saya kembali bergumam, “Dwi gimana barang-barang elo tuh?” tanya saya ke Dwi, “ngga apa-apa tadi sebelum ke sini sempat gue beresin, paling sisa masakan gue tadi didalam” sahut Dwi. “aduhhh masih hujan ya… pengen kecing nih” keluh Rona yang sedari tadi nahan buang air kecil karena ogah keluar. Tidak berapa lama kemudian Dwi yang selesai makan Indomie, mendadak keluar tenda, rupanya dia juga sudah tidak tahan untuk tidak buang air kecil, dan ternyata hanya hujan gerimis kecil, karena badai yang kencang membuatnya suara seperti hujan lebat saat menerpa tenda. “Oiii ini misting siapa nehhhh…!!!, ketiup-tiup angin..!!” teriak Dwi dari luar, wah gila juga anginnya sampe sanggup menerbangkan panci misting kosong yang ada diluar, begitu tahu hujan tidak begitu lebat akhirnya saya juga jadi kepingin keluar, Rona mengikuti karena juga dari tadi sudah blinsatan untuk buang air kecil. Dari cahaya headlamp saya hanya terlihat putih saja angin kencang sekali, saya memeriksa tenda Dwi, ternyata ada beberapa framenya yang patah. Hanya patok-patok tendanya saja yang membuat tenda ini tetap pada posisinya dan tidak diterbangkan angin. Sekembalinya ke tenda bergelung masuk sleeping bag terasa sangat nyaman sekali. Jarum jam masih menunjukan jam 11 malam. “wah ngga jadi nih pesta kembang apinya hehehehehe..” gumam saya, sementara Dwi dan Rona hanya nyengir. Tepat jam 00.00 WIB saya meniup peluit badai kepunyaan Dwi…. Sembari membuka sedikit pintu tenda “oooiiiiii selamat tahun baru….!!!!”” Saya berteriak dari dalam tenda dan disahuti oleh Dipa, Kris, dan Arif. Tidak ketinggalan pendaki lainnya yang ada disana juga membalas ucapan tersebut, Dipa membuka pintu tendanya di ikuti oleh Kris. “Kris, Nhanha mana? Dah tidur ya?” tanya saya, “udah bang tewas dia..hehehehehe” jawab Kris. Jadilah perayaan tahun baru itu kami rayakan di dalam suasana The Perfect Storm Sindoro, dan dengan memainkan cahaya headlamp yang membentuk seperti spotlight didalam kabut. Tiba-tiba Dipa nongol di pintu tenda nawarin pudding, “bang nih mau ngga? Puding tahun baru” tawarnya kami menerimanya, “kita juga bikin sih, tau tuh si Rona sukses apa ngga pudding bikinan dia” sahut saya sambil menelan pudding pemberian Dipa. Malam semakin larut sekarang sudah tahun 2008 perlahan dalam hati saya mengucapkan doa agar kehidupan di tahun ini lebih baik di tahun sebelumnya, dan perlahan melelapkan diri, Dwi dan Rona sudah diam dari tadi mungkin sudah berlayar jauh dalam mimpi mereka masing-masing. Pagi hari, ini adalah hari pertama di tahun 2008, semua teman-teman tengah sibuk berfoto ria, karena pagi ini langit cerah, kabut perlahan tapi pasti menyibak dan pemandangan Sumbing serta nun di belakangnya Merbabu dan Merapi terlihat dibalik samar kabut dan awan, terobosan sinar matahari seperti membentuk lobang diatara ketiga gunung tersebut, pemandangan yang memukau, angin masih berasa cukup kencang. “Gue mau ambil air bang jalannya lewat mana?” tanya Kris, “naik sana terus elo ke arah puncak kemaren dan kemudian turun dari sana” jawab saya, kemudian Kris bertiga dengan Irvan dan Arif pamit untuk mengambil air di kawah. Saya, Rona dan Dwi bersiap untuk memasak sarapan, “Pada masak nasi aja dan kalo ada lauk masak juga ntar kita makan bareng, gue juga mau masak nih..” saya ngasih info sama Nhanha, Dipa dan yang lainnya. Pagi ini cuaca lumayan cerah tapi masih ada sedikit gerimis kabut, awan masih banyak mengantung di beberapa bagian langit, pertanda cerah pagi ini tidak akan lama. Sekitar jam 9 pagi makanan sudah jadi dan buru-buru makan karena takut cuaca akan segera berubah hujan kembali, packing harus sudah kelar disaat cuaca cerah begini. Pada pendaki lain sudah banyak yang meninggalkan areal ini, kamipun mulai packing sementara sosok Sumbing jelas sekali terlihat, matahari menampakan sinarnya, tapi kadang kembali tertutup kabut dan kadang terbuka kembali. Sekitar jam sepuluh pagi kami sudah siap untuk turun kembali menuju Kledung, setelah sesi bikin foto keluarga di kawasan puncak, satu persatu kembali langkah kami menapaki jalur setapak turun, kabut kembali menutupi wilayah puncak Sindoro. Kledung kami raih disaat matahari sudah condong, sekitar jam 3 sore baru semuanya sampai di basecamp. Saya, dengan arif dan Rona berinisiatif duluan ke Wonosobo untuk membeli ticket bus, nanti nya teman-teman lainya menyusul karena masih ada yang sibuk mandi dan sebagainya, namun rupakanya keberuntungan tidak berpihak pada kami, saat sampai di terminal Wonosobo, Bus AC sudah berangkat bus ekonomi sepuluh menit lagi jalan, “gue baru nyampe Kertek nih” sahut Kris diseberang telpon saat saya menanyakan posisi teman-teman sekarang. Wah dah nga mungkin, akhirnya saat mereka semua dah ngumpul di Wonosobo kami putuskan untuk mencarter angkot hingga ke Purwokerto karena menurut info dari petugas Bus di Wonosobo, di Purwokerto banyak bus hingga jam 12 malam. Perjuangan mendapatkan trnasportasi untuk pulang di purwokerto juga sangat alot, semua bus penuh, kereta penuh, dari ekxekutif hingga ekonomi… satu kata “PENUH” kami lemes semua ditambah lagi biang kerok supir taksi gelap di stasiun sempat membuat argo emosi saya melonjak tinggi. Akhirnya berkat Irfan yang gigih menanyakan kemungkinan kami untuk dapat tiket kereta berbuah hasil, walaupun harus dapat karcis bediri di kereta bisnis, kami terpaksa ambil, kereta yang super penuh itu akhirnya membawa kami kembali ke Jakarta, saya, Ella, Irvan, Nhanha, Rona, Kris, Arif dan Bayu, bersama kami naik kereta tersebut sedangkan Dian dan Dipa di Wonosobo mereka langsung ke Bandung. Dwi dan Ayip masih jalan ke Dieng. Berdelapan kamu akhinya memasuki Jakarta pada jam 4 pagi dan ternyata Jakarta banjir….. Bersalaman kami berpisah di stasiun Jatinegara, kembali ke kehidupan normal masing-masing, terima kasih teman bersama kalian menempuh badai Sindoro dan begadang di kereta penuh sesak, sungguh suatu pengalaman yang membuat saya semakin tahu keterbatasan diri ini. “ayo pak jalan..” pinta saya pada supir taksi sembari menyebutkan alamat home sweet home……
|  | Foto album kemaren pas kita merayakan tahun baru 2008 di Gunung Sindoro - Jawa Tengah, rame juga rombongan kita total 22 orang tapi yang ngecamp di puncak dan menikmati "The Perfect Storm" cuma 12 orang. Yang lainnya memilih tidak ikut karena ngga yakin sama gears mereka, menurut saya itu adalah "good choice". Dan smart. Tapi kita yang ngecamp di puncak mendapatkan pengalaman yang lain. |
“Eh… gimana sih, padahal kita dah booking villa lho” ujar Mba Lia Mustafa owner dan Moderator milis highcamp Jogjakarta saat menyambut saya, Ori dan Heru di rumahnya. “mana yang lainnya?” lanjutnya lagi. “Iya mba maaf, soalnya badai yang cukup kencang membuat kita ngga berani membawa teman-teman cewek untuk membawa gebolan ransel melewati kawasan puncak, jadi batal turun ke Selo.” Jawab saya sembari menyalami Mba Lia saat dia muncul bergabung dengan Mas Mustafa suaminya yang sedari tadi menemani kami ngobrol. “Mba Rachmi langsung ketemu saudaranya, Titi juga ketemu saudaranya, sedangkan Suwasti ngikut Titi.” Uraiku panjang lebar menjawab pertanyaan Mba Lia mengenai anggota tim Merbabu lainnya yang ngga kelihatan olehnya. Dan selanjutnya bisa ditebak obrolan melepas kerinduan dengan kakak yang satu ini pecahlah sudah, dan sangat menyenangkan. Empat hari sebelumnya, di Lebak Bulus, Saya tengah celingak-celinguk mencari keberadaan Ori dan Suwasti yang sudah dulu sampai di terminal ini, kami memang hari ini akan berangkat mendaki gunung Merbabu di Jawa Tengah. Dari Jakarta kami berjumlah lima orang, dua orang lainnya yaitu Heru dan Titi ungu yang saya yakin sekarang juga sudah meluncur menuju terminal bus Lebak Bulus. Dua anggota tim lainnya yaitu Mba Rachmi dan Bowo akan bergabung dengan kami di desa Wekas, tempat dimana kami akan memulai pendakian. “Ori dimana posisi elo tepatnya?” akhirnya saya menelpon Ori karena belum juga menemukan mereka berdua, “di rumah makan padang bang, didepan bus yang mau ke Garut” jawab Ori diseberang telpon. Akhirnya tak beberapa lama kemudian kami sudah berkumpul semua, dan bukan itu saja kami juga sempat betemu dengan teman-teman dari milis #Pendaki yaitu Nanda cs yang akan berangkat ke Gunung Slamet. Alunan “Aku Mau” nya Once mengalun dari Ipod kesayangan saat bus mulai melaju menembus gerimis meninggalkan Jakarta. Titi dan Suwasti duduk paling depan dibelakangnya Ori dan Heru, sedangkan saya kebagian duduk sendiri, tapi tidak sendiri juga disebelah saya duduk gadis manis yang kemudian saya ketahui namanya Ratna yang baru lulus SMA dan mau berlibur ke tempat neneknya. Aku mau-nya Once terus mengalir dan perlahan saya pun jatuh tertidur. Bus malam Kramat jati terus melunjur menuju Jawa tengah, berhenti sekali untuk makan malam dan melaju lagi. “+=*&^%$#..??” si kenek bus bicara sama Ori dengan bahasa Jawa, saat itu bus sudah mendekati kota Magelang tepatnya di kota Bawen, rupanya kami akan diturunkan di Bawen sini karena dengan alasan mobil yang kami tumpangin ini tidak menuju Magelang. “tuiiiingggggg” seperti biasa saya langsung ngomel, mereka menyalahkan kita ngga baca dulu busnya sebelum naik. Padahal sebelumnya di Lebak Bulus yang menyuruh kita naik bus ini adalah petugas mereka. Sedikit argument dan ribut akhirnya kita ngalah dan turun di Bawen, si kenek itu memberikan uang operan pada calo untuk mecarikan kami mobil ke magelang, dalam hati saya berjanji untuk tidak naik Kramat Jati lagi, jarum jam masih menunjukan jam empat pagi, udara cukup dingin dan basah karena habis hujan. Dengan kondisi begini, akhirnya kita memutuskan untuk carter angkot hingga ke Magelang dari sana kami langsung carter kendaraan menuju desa Wekas. “Ayo turun dulu, ngga kuat nih mobilnya” ajak Ori saat Mobil Zebra Espass yang kami tumpangi tidak mampu melewati tanjakan terjal menuju Desa Wekas, hari masih pagi sekitar jam enam, masih basah dan cukup dingin. Mau tidak mau akhirnya kami turun, dan sang Zebra mengambil ancang-ancang dan lanjut meraung-raung mesinnya melewati tanjakan tersebut. Memang kondisi jalan cukup terjal dan jalannya berlapis batu-batu licin. Desa Wekas ini berada di ketinggian 1722m dari permukaan laut, dari belakang rumah kuncen gunung ini yaitu pak Sutyoso kita bisa memandang lepas kearah gunung Sumbing dan Sindoro yang gagah berdiri. Kami disambut oleh Bowo saat sampai di rumah pak Yoso, saya langsung masuk dan betemu pak Yoso juga Mba Rachmi dengan pasukannya, rupanya pada pendakian pertamanya mba Rachmi diantar oleh temannya Romna yang kemudian akrap saya panggil Romla, kemudian mba…????..aduh namanya lupa, disamping itu juga ada anaknya mba Racmi serta anak temannya itu. Mereka akan mengantarkan mba Rachmi hingga minimal sampai pos 1. Untuk mendaki Merbabu umumnya ada tiga jalur umum yang selalu dipakai yaitu jalur Cuntel dan Tekelan dari sisi Utara serta jalur Selo dari sisi Selatan. Ada satu lagi jalur dari sisi Barat yaitu dari Wekas, jalur ini karena merupakan rute langsung (direct route) lebih pendek dan memang lebih menanjak namun waktu tempuhnya lebih cepat ketimbang dari sisi Selatan dan Utara. Ditambah lagi faktor air yang cukup tersedia di Pos II jalur ini, belum lagi view yang sangat menawan dari Pos II dan ada sebuah air terjun yang berada dibawah lembahnya. Inilah yang membuat saya mengusulkan pada teman-teman untuk memilih jalur Wekas sebagai akses menuju puncak Merbabu. Pada jalur wekas ini hanya terdapat dua pos istirahat yaitu pos satu dan pos dua. Hanya sebentar kami di basecamp nya pak Sutiyoso ini, masih pagi dan kamipun langsung memulai pendakian setelah berdoa bersama dan meneriakan yel..yel.. “Baaweenn.!!” Yah.. akhirnya kata bawen menjadi yel-yel kami, dan Herupun menjadikannya sebagai kalimat ledekan saat bercanda dengan Suwasti. “elo sih karena Bawen dan banyak makan Bakwen kita jadi turun di Bawen…hahahahahahahaha” demikian joke yang diucapkan Heru. Sebelum kami akhirnya berangkat memulai pendakian ke Merbabu.
aku mau mendampingi dirimu aku mau cintai kekuranganmu selalu bersedia bahagiakanmu apapun terjadi Ku janjikan aku ada
Kau boleh jauhi diriku namun ku percaya kau akan mencintaiku dan tak akan pernah melepasku
Alunan Aku Mau – nya Once mengalir dari speaker kecil yang tergantung di ransel saya, entah kenapa lagu tersebut menempati urutan teratas di tangga lagu kegemaran saya saat ini, dan menemani langkah kami menapaki jalan setapak rute pendakian Wekas. Jalan setapaknya yang awalnya berupa susunan batako yang di semen sekarang sudah berganti dengan jalan tanah yang cukup licin namun jelas terlihat, sementara rombongan pengantar Mba Rachmi tampak bersemangat sekali menapakinya, cuaca mendung dan sesekali kabut turun. Selepas pos 1 rombongan pengantar mba Rachmi kembali turun, dan kami terus bergerak menuju Pos 2. keadaan rute pendakiannya cukup menanjak karena ini jalur direct jadi tidak heran tanjakan curam cukup banyak ditemui. “wow indah sekali” saya berdecak kagum saat memasuki pos dua, dari pos dua ini jejeran punggungan dan puncak-puncak jelas terlihat. “Ori mirip dengan view di basecamp pegunungan alpen di Jepang, bedanya disana puncak-puncak dan pungungan itu berwarna putih tapi kalo disini hijau” ujar saya pada Ori yang juga tengah enjoy dengan view di pos II ini. Sesekali kabut turun menutupi jajaran puncak-puncak tadi tapi kemudian kembali tersingkap, indah sekali. Nun dibawah lembah sana terlihat air terjun yang cukup besar sehingga bunyi pecahan airnya terdengar hingga ke tempat kami berdiri. Selesai makan siang, tidak bisa berlama-lama disini karena mendung sudah semakin tebal, dan benar saja saat baru melangkah meninggalkan Pos II hujan turun dan semakin deras, kami terus melangkah kabut juga membuat jarak pandang semakin pendek, jalan setapakpun berubah menjadi aliran air seperti sungai kecil. Kami terus melangkah untunglah kami sudah siap sedia dengan kondisi “wet weather” begini. Mendekati daerah puncak Antene, hujan berhenti dan perlahan kabut menyibak, jalur Wekas ini akhirnya bertaut dengan jalur dari Kopeng (cuntel dan Tekelan) dan menyatu hingga kepuncak. Sempat bertemu beberapa pendaki lainnya dan saling bertegur sapa. Seperti rencana akhirnya kami mendirikan tenda di sebuah pelataran yang di kenal dengan sebutan Hellypad. Sebuah dataran yang cukup menampung 4 tenda dan beranda diantara dua puncak kecil. Hellypad ini bagus sekali untuk lokasi tenda, karena pemandangan dari sini sangat indah dan juga jika turun kebawah kearah kawah kita bisa menemukan sumber air. Sekitar jam lima sore tiga tenda kami sudah berdiri hanya dua tenda yang kami pakai satunya kami gunakan untuk gudang logistik dan barang-barang, kabut tebal kembali menutupi lokasi camp kami dan membuat jarak pandang terbatas. Detingan panci trangia dan suara canda tawa kami mengisi kawasan hellypad ini. Kami memang cukup kelaparan hidangan pembuka berupa minuman hangat menjadi pilihan sementara Ori, Heru dan Bowo turun ke arah kawah untuk mengambil persediaan air. Selesai magrib makan malam kami sudah siap, ada sayur oseng buncis campur terong, tempura terong, Ikan asin, goreng daging kambing. Mhmmm lahap sekali kita makan bersama, sementara diluar tenda kabut masih menggatung menutupi jarak pandang kami. Tidak berapa lama kemudian kami akhirnya menyerah pada kantuk yang menyerang dan satu persatu akhirnya rebah terlelap didalam kehangatan sleeping bagnya masing-masing, diluar angin masih terdengar cukup kencang, alunan Nothing Gonna change my love for you – nya Peabo Bryson dari speaker Ipod yang tergantung di disisi tenda bagian dalam terus mengalun dan malampun jatuh semakin jatuh terlelap…… “oiiii bangun bagus nehhhhh…!!!” sayup-sayup suara teriakan seseorang membuat saya terbangun dari tidur, ahh tenyata cukup nyenyak tidur semalam rupanya karena tidak terasa hari sudah siang kembali. Perlahan saya muncul dari balik sleeping bag dan bagun pelan-pelan lalu membuka pintu tenda koneng yang telah melindungi dari dinginnya angin dan kabut gunung semalam. Begitu resleting pintu tenda dibuka serta merta udara dingin menyeruak masuk dan uhhh.. ternyata diluar masih memutih tertutup kabut tebal. Ori dan Bowo sudah sibuk diluar memasak air, perlahan dengan malas saya keluar tenda. Bbrrrrrr… dingin juga kayaknya segelas teh manis panas bisa menghangatkan badan nih, batin saya sembari mendekati Bowo dan Ori yang tengah asyik didepan kompor trangia. “ngopi bang..??” tawar Ori sambil menyeruput kopi hitam kentalnya, “gue teh aja deh, ada ngga?” sahut saya sembari ikut nongkrong didepannya, “ngga ada kayaknya nih, elo biasanya bawa teh kan bang?” lanjut Ori, “ada, bentar ya” saya beranjak ke tenda mengambil teh celup kesukaan. Memang saya tidak suka ngopi, tapi ngeteh, dan setelah menemukan yang saya cari sayapun memberikannya pada Ori. Dan tak lama kemudian segelas teh panas telah berada dalam genggaman tangan dan memberikan kehangatan saat menghirup pelan-pelan. Jarum jam sudah menunjukan angka delapan tapi sepertinya kabut masih terus menyelimuti kawasan Merbabu, tidak ada yang bisa dilihat kecuali putih. “Bang gimana menurut elo?” Tanya Ori, “ kita tunggu aja dulu sapa tau ntar kabut beranjak” sahut saya pada Ori. Tapi ternyata kabut merbabu semakin tebal dan malah sekarang angin mulai bertiup semakin lama semakin kencang. “bang kayaknya ngga mungkin nih kita bawa ransel ngelewati badai begini, gue cemas sama yang cewek-cewek, gimana menurut elo” Tanya ori setelah melihat kemungkinan tipis sekali cuaca berubah menjadi baik. Saya diam sejenak dan melihat sekeliling. “gimana bang, kalo kita naik tanpa ransel aja, barang tinggal disini?” lanjut Ori. “ya tapi ngga bisa kita semua yang naik, bisa-bisa hilang semua nih tenda berikut isinya” sahut saya. Akhirnya setelah cukup lama berdiskusi dan mempertimbangkan keadaan, kami sepakat untuk merubah skenario pendakian yang tadinya rencana akan naik ke puncak dan mendirikan camp II di kawasan puncak dan turun lewat Selo pada hari berikutnya dirubah menjadi tetap ngecamp di Hellypad ini dan turun kembali melewati Wekas. Apa boleh buat demi keamanan, akhirnya kami memutuskan demikian. “Ok deh kita bagi dua regu aja buat ke puncak” kata Ori, “sapa yang regu pertama? Gue ngikut regu pertama deh, elo gimana Ri?” ujar saya sambil balik bertanya sama Ori, “gue juga ikut yang pertama aja bang.” “Aku juga ikut yang pertama” terdengar suara Titi Ungu juga angkat bicara, dan akhirnya total tim yang pertama menuju puncak dengan ikutnya juga mba Rachmi adalah empat orang. Menit-menit berikutnya kami berempat sudah berjalan menembus tebalnya kabut dan badai merbabu yang cukup kencang, perlahan dan dengan sangat hati-hati kami melewati “jembatan setan” sebuah jalur yang dikiri kanannya terdapat jurang, kami terus mendaki sesekali saya mengabadikannya. Sementara badai semakin kencang, saat melewati pertigaan puncak Syarif dan puncak Kenteng Songo tiupan angin semakin terasa, kami juga bertemu dengan sekelompok pendaki yang mundur karena tidak tahan angin, saya pikir lebih baik begitu karena dilihat dari pakaian yang mereka kenakan tanpa wind breaker sangat tidak aman sekali jika mereka nekat menembus badai ini. Setelah melewati tanjakan akhir, puncak Kenteng Songo kami raih, kabut pekat dan angin cukup kencang disana, tidak ada pemandangan yang bisa dilihat, setelah istirahat makan snack dan mengambil beberapa foto didekat batu-batu berceruk mirip lesung yang merupakan ciri khas puncak Kenteng Songo ini, kami bergerak turun kembali, tidak langsung turun tapi kami akan mengunjungi puncak ke dua yaitu Puncak Syarif. Badai masih kencang dan saat sampai kembali di pertigaan puncak kami menemukan pendaki lain yang berlindung dibalik batu dengan cara tiduran dan berbungkus lembar plastik, ternyata mereka tengah menunggu temannya yang masih berada di puncak Syarif. Nasip kami sedikit baik saat berada di puncak Syarif, perlahan kabut tersibak dan badai berhenti namun terkadang tiupan angin masih terasa cukup kencang. Titi dan mba Rachmi berteriak-teriak senang minta di foto saat kabut perlahan tersibak dan terlihatlah sosok puncak gunung Sumbing dan Sindoro yang seakan mengapung diatas awan. Tapi saya sepertinya berpacu dengan kabut, begitu tersibak kembali dia menutup dan terus begitu beberapa kali. Sosok Merapi terlihat tiba-tiba saat kabut beranjak di arah selatan, awan terlihat menutupi satu sisi bagian timurnya saja, sepertinya dipuncak Merapi juga tengah terjadi badai. Dalam perjalanan turun menuju camp perlahan kabut menghilang dan badaipun berhenti, camp kami di hellypad jelas terlihat dan dengan hilangnya kabut puncak-puncak lainnya juga semakin terlihat. Merbabu mempunyai ciri khas pemandangan yang lain daripada gunung lainnya, karena sembilan puluh persen dari gunung ini hanya di tumbuhi oleh rumput ilalang membuat jarak pandang tidak terhalang dan punggungan serta puncak-puncaknya jelas terlihat berwarna hijau kekuning-kuningan. “Suwasti jadi kepuncak ngga cepat buruan mumpung cuaca bagus tuh” kata saya saat sampai kembali di Hellypad lokasi camp kami. “ngga ah males” jawab dia. “iya malas ah, gue juga dah beberapa kali nyampe puncak bang” timpal Bowo juga dan Heru sepertinya sependapat. “makan bang tadi kita dah masak tuh” lanjut Bowo, tanpa komando lagi kami yang memang kelaparan dari puncak segera menyantap makanan yang telah disediakan oleh sahabat-sahabat yang baik hati ini. “uuu.. tau ngga pada kepuncak mending kita main-main dulu tadi dipuncak” gumam Titi begitu mengetahui Heru, Suwasti dan Bowo tidak jadi kepuncak. Hari masih sore, saya mengisinya dengan motret sana sini, ngga puas-puasnya mengarahkan camera mengabadikan pemandangan indah dari gunung Merbabu ini. Selanjutnya kami mengisi waktu dengan main kartu remi, dan sebagaimana halnya kabut Merbabu yang sudah tersibak ternyata ada juga kisah dua anak manusia yang tersibak dalam perjalanan ini dan tak pelak lagi keduanya menjadi sasaran canda hingga tak berkutik menerima ledekan dari kami berlima, terlebih yang cowok mukanya sesekali bersemu merah, entah apa yang ada dihatinya saat menerima ledekan kami. Mudah-mudahan saja mereka juga saling suka. Sayang sekali battery Ipod saya sudah habis, kalau tidak saya akan putarkan lagu “Sempurna” nya Andra and the backbone untuk mereka berdua. Kami main kartu hingga hari menjadi gelap. Malam ini cerah sekali dibawah sana kerlap-kerlip lampu kota jelas terlihat dan perlahan tapi pasti purnama pun muncul dengan sosok yang utuh. “aduh sayang sekali kita ngga jadi ngecamp di puncak, coba ngga badai ya dan kita bisa ngecamp dipuncak pasti pemandangan malam purnama dengan sosok Merapi sebagai back ground akan sangat bagus sekali” gumam saya sembari terus mengabadikan malam yang hening ini. “Mas-mas tolong teman saya pinsan” ujar seseorang mendatangi tenda kami, rupanya mereka tiga orang pendaki lain yang mendirikan tenda tidak jauh dari tempat kami nenda. Bergegas kami menuju kesana, rupanya yang pinsan itu adalah teman perempuan mereka, saya meraba nadinya dan masih berdenyut normal, “kenapa dia” Tanya Bowo, “tau mas tadi ngga apa-apa malah habis ngerokin dia” sahut cowok yang memanggil kami tadi sambil menunjuk teman cowoknya, “terus tadi tidur tiba-tiba pinsan” lanjut dia lagi. “tadi kehujanan ya? Sudah makan belum dia” Tanya saya. “dia ngga mau makan mas, ngga napsu katanya” sahut temannya. Ya ini sering terjadi pada pendaki pemula, mereka sering kehilangan napsu makan saat mendaki, kehilangan napsu makan dan merasa mual saat mendaki adalah gejala awal dari mountain sickness. Setelah siuman Titi dan Suwasti merawatnya dengan memberikan minuman dan makanan hangat. Kami kembali ke tenda setelah keadannya kembali normal, hanya Titi dan Suwasti masih disana, namun tidak lama mereka bedua sudah kembali, malam semakin larut angin sepoi-sepoi berhembus, purnama bulat penuh. Lega rasanya pendaki cewek itu bisa diselamatkan. “Bang bagun bang… bagus nih….!!!” Terdengar teriakan Ori dari luar tenda, saya tersentak bangun. Pulas sekali tidur, masih sekitar jam 5 pagi saya ragu untuk keluar takut dikerjain lagi seperti kemaren, namun rupanya benar saat keluar tenda saya lihat purnama sudah condong, sementara di ufuk timur bias sang fajar perlahan muncul menggantikan sinar purnama. Namun sayang awan cukup tebal di ufuk timur sehingga bias yang muncul tidak begitu jelas. Saat matahari semakin naik, kami yang cowok-cowok turun ke arah mata air didekat kawah untuk mengambil air, mata air ini mengalir keluar dari sebuah lubang dan dialirkan pada pipa-pipa turun ke perkampungan, pipa-pipa ini bisa ditemukan disepanjang rute pendakian jalur Wekas, bahkan sumber air di pos 3 berasal dari pipa yang dibolongi. Memang rasa airnya sedikit asam, tapi lebih baik dari pada kehausan. Selesai sarapan dan packing-packing kami sempatkan untuk foto bersama dan setelah itu kembali kaki-kaki kami menapaki jalur setapak turun kembali ke Wekas, tidak terlalu lama waktu yang kami perlukan untuk mencapai Wekas hanya kurang lebih 5 jam kemudian kami sudah berada kembali di rumah pak Sutyoso sang kuncen jalur Wekas. Kami bermalam disini dan baru turun ke Jogja keesokan harinya untuk bertemu Mba Lia moderator HC Jogjakarta. Sewaktu mobil pickup yang kami tumpangi bergerak meninggalkan Wekas tampak sosok Merbabu yang kembali ditutupi kabut, namun dibalik kabut itu tersimpan pemadangan yang indah, cerita yang indah yang mudah-mudahan terus berlanjut menjadi alur yang indah dan bukan hanya sebagai kenangan indah “Dibalik kabut Merbabu”.
| Start: | Dec 21, '07 4:00p | | End: | Dec 25, '07 |
ayo ikutan ke Merbabu yokkkk. Kita naik dari jalur Wekas dan turun Selo Itinerary lengkap perjalanan. 21 Nov 2007 15:00 - 06.00 Jakarta - Magelang Naik bus malam dari terminal Lebak bulus 22 Nov 2007 06:00 - 08.00 Magelang - Wekas (basecamp) naik bus dari magelang turun di kaponan dan kemudian menuju kandakan (basecamp) melaporkan diri 09.00 - 17.00 Basecamp - Pos V Helipad (camp 1) Mulai pendakian menuju Pos Helipad bermalam (Camp 1) 23 Nov 2007 08.00 - 15.00 Camp 1 - Puncak menuju puncak Syarif dan Puncak Kenteng Songo turun kearah Selo,bermalam (Camp 2) 24 Nov 2007 08.00 - 17.00 Camp 2 - Selo turun menuju selo kemudian bermalam 25 Des 2007 08.00 - 10.00 Selo - Magelang 15.00 - 06.00 Magelang - Jakarta 26 Des 2007 06.00,Sampai di Jakarta Kembali ke Aktivitas sehari - hari Note: itinerary ini bisa saja berubah disesuaikan dengan keadaan di lapangan
| Start: | Dec 29, '07 2:30p | | End: | Jan 1, '08 |
Ayo teman-teman yang berminat ikutan gabung kita bertahun baru di puncak Gunung Sindoro Jawa Tengah. Yang namanya Desember turun hujan itu adalah hal yang biasa jadi siapkan aja perlengkapan untuk menghadapi extreme wer weather nya...... Berikut detailnya, Acara disana: - Belajar GPS dan cara plot di Peta - Bernarsis ria di puncak Sindoro - Pesta kembang Api malam tahun baru (bawa sendiri) Itinerary nya: 29 Dec 2007 16:00 - subuh Jakarta - Wonosobo Naik bus malam dari terminal Lebak bulus 30 Desember 2007 07:00 pagi Wonosobo - Kledung (basecamp) naik bus 3/4 dari wonosobo turun di kledung dan lapor di basecamp 30 Desember 2007 09:00 - 17:00 Basecamp - Camp I Mulai pendakian target hanya sampe pos III atau Pos IV yang cukup menampung tenda kita semua dan bermalam disini. Malamnya belajar ngeplot peta dari data GPS 31 Desember 2007 08:00 - 14:00 Camp I - Camp II Paginya start mendaki hingga kawasan puncak (camp II) dan nenda disana berhubung kita sampai masih rada siang jadi kita explore kawasan puncak pokoknya acara bebas (foto narsis di puncak). Malamnya tahun baru kita bikin acara pesta kembang api 01 January 2008 07:00 - 13:00 Camp II - Basecamp Turun langsung dari puncak ke Basecamp dan bersih-bersih serta istirahat. 01 January 2008 14:00 Basecamp - Wonosobo Turun ke Wonosobo naik bus 3/4 01 January 2008 16:00 - Subuh Wonosobo - Jakarta Pulang ke jakarta dan kembali ke aktifitas sehari-hari Note: itinerary ini bisa saja berobah disesuaikan dengan keadaan di lapangan, namun margin waktu kita tetap tanggal 01 january sudah harus balik ke jakarta.
Kau begitu sempurna Dimataku kau begitu indah kau membuat diriku akan slalu memujimu Disetiap langkahku Kukan slalu memikirkan dirimu Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu Janganlah kau tinggalkan diriku Takkan mampu menghadapi semua Hanya bersamamu ku akan bisa Alunan “Sempurna” nya Andra and the backbone mengalir dari HP nokianya Ori, ya kau memang begitu sempurna, kau memang begitu menarik dan penuh pengertian - aku membatin sendiri mengenang seseorang sambil tenggelam sibuk memasak buat tiga orang teman-teman pendaki ku yang tengah kelaparan ini. Sementara diluar sana angin lembah Surya Kencana bergemuruh menghantam lembar flysheet tambahan yang dipasangkan pada tenda Eureka milik Ori ini, mengeluarkan bunyi kepakan-kepakan bagaikan sayap-sayap elang. Masih sekitar jam tujuh malam, udara cukup dingin, kabut tebal dan berangin kencang menyelimuti lembah Surya kencana Gunung Gede. Didalam tenda kami saat ini ada Ori yang santai menikmati sigaretto nya dan Titi ungu yang sibuk membantu mengiris sayur buncis serta ada mas Ei yang ikut ambil bagian memotong dendeng kering menjadi potongan-potongan kecil agar mudah menggorengnya. Ditenda sebelah ada Tanti, Neni dan Asep. Di tenda depan Ada Budi Hijau, Hanung, Danis, dan Gery sedangkan disebelahnya lagi ada tendanya Cepot dan Elly. Kau adalah darahku Kau adalah jantungku Kau adalah hidupku Lengkapi diriku Oh sayangku, kau begitu Sempurna.. Sempurna.. Kau genggam tanganku Saat diriku lemah dan terjatuh Kau bisikkan kata dan hapus semua sesalku Sempurna – nya Andra and the backbone masih mengalir. Ya saya dan teman-teman tengah berada di gunung Gede malam ini. Pendakian yang di prakasai oleh Tanti dari #pendaki ini diikuti oleh 13 orang termasuk saya. Sabtu pagi kami memulai pendakian, tidak terburu-buru, langkah kami mengalir seiring dengan hebusan sejuknya angin gunung dan cuaca sepanjang pendakian juga cukup bersahabat meskipun beberapa kali kabut tebal sempat turun namun kami masih diberikan keberuntungan tidak dibasahi oleh hujan. Dan saat kami mencapai wilayah alun-alun timur Surya kencana sekitar jam empat sore, kabut cukup tebal menggantung di hamparan padang Surya Kencana, gunung Gemuruh disebelah kiri tertutup kabut. Namun langkah dan tawa canda gerombolan kami memecahkan kesunyian padang ini. Bunga abadi Edelweiss tampak sudah mulai kering menguning kecoklatan, wanginya sudah tidak tercium, namun jika kita mengujungi lembah ini di bulan Juni semerbak edelweiss yang sedang mekar akan menyeruak memenuhi rongga hidung saat hembusan lembut angin gunung menghantarkannya keindra penciuman kita. Lokasi kami mendirikan tenda saat ini tidak begitu jauh dari sumber air, berada diseberang sungai kecil tepatnya di kaki punggungan gunung Gemuruh. Pendaki lain tidak begitu banyak, namun lokasi nenda strategis sudah terisi mereka inilah yang membuat kami memilih tempat ini sebagai tempat bermalam dan beristirahat. “Bang dah kelar nih buncisnya” ujar Titi memecahkan keheningan saya. “Ok Ti, lanjut sama bawang merah dan putihnya, juga sekalian cabenya tolong di iris”. Jawab saya sambil terus menggoreng potongan-potongan dendeng. Ini adalah pendakian kedua saya sama teman-teman #Pendaki, sebelumnya saya sempat gabung mereka ke gunung Salak. Udara makin dingin, tiupan angin masih kencang, tapi rasa dingin tersebut bisa terobati oleh kehangatan diberikan saat menghirup teh manis hangat. Tidak begitu banyak obrolan diantara kami, semua sibuk dengan keasyikannya, mas Ei tampak mulai memasangkan sarung tangan menutupi jemari tangannya. Tidak lama kemudian santap malam kami pun sudah siap, yaitu dendeng, sayur oseng buncis, dan ditambah tempe teri balado yang dibawa oleh Titi. Sederhana sekali tapi cukup membangkitkan selera saat menyantapnya. Usai ritual makan seperti biasa, keinginan untuk segera rebahan tidak bisa ditunda lagi terlebih dengan cuaca seperti sekarang, tidak yang bisa mencegah keinginan untuk segera masuk ke sleeping bag dan tidur dengan nyaman. Diluar kepakan-kepakan lembar flysheet tenda yang di hantam angin lembah ini terasa bagai musik alam yang menggatikan Andra and the backabone yang sudah dari tadi menghilang. Karena rasa kantuk dan lelah akhirnya kami semua tertidur lelap. Saya segera tertidur, melupakan kepenatan saat pendakian tadi melupakan sosok yang sore tadi sepintas terlihat mengawasi kami, juga sosok muka yang mengintip dari jendela tenda saat saya tengah memasak. Biarkan mereka mengenal kami dari jauh saja. Aku terbangun karena mimpi yang ngga enak bener, yaitu mimpi ngerjain kerjaan di kantor padahal sudah jamnya untuk pulang, saya ngomel tapi sempat terdengar oleh Titi, dan antara setengah sadar dan enggak saya sempat denger titi bilang “Hei bang Hendri ngigo tuh..” saya pun perlahan bangun dan menjawabnya “ngga ti gue ngga ngigo gue mimpi” - wekkkkkk… sama aja ya hahahahahaha…… Perlahan tenda dibuka angin dingin menyeruak masuk, mhmm masih berkabut, sedianya recanan Tanty yang menjabat leader kami, tadi subuh harusnya kita mendaki kepuncak untuk ngejar sunrise, tapi rupanya cuaca tidak bersahabat sehingga membuat kami lebih memilih bergelung kembali dibalik kehangatan rangkulan sleeping bag masing-masing, dan baru mulai bangun saat matahari sudah mulai menyising. Kesibukan mulai terdengar detingan suara misting (peralatan masak) memecahkan keheningan lembah pagi itu. Angin sudah tidak bertiup lagi, namun terasa masih dingin. “ayo bang masak sarapan dong.” Rengek Titi, mungkin cacing di perutnya sudah mulai bergeliat minta jatah. Saya masih enggan keluar dari sleeping bag, Ori yang sudah berada diluar cepat tanggap menyiapkan kompor dan memasak air. Sementara Sempurna – nya Andra and backbone kembali terdengar dari HP Ori. Saat matahari mulai perlahan naik, kesibukan mulai terlihat, dari tadi malam bibir ini saya tahan untuk tidak meledek dua mahluk yang satu tenda dengan saya, akhirnya mulailah ritual tersebut entah siapa yang memulai ledekan-ledekan mulai meluncur dan ternyata Ori pun merasakan hal yang sama, “Bang sebenernya gue mulai dari semalam pengen ngecengin hehehehehehe”. Ujar ori sembari menyerigai khas nya dia. Dan pecahlah pagi itu dengan riuh redah candaan saya dan ori, sementara kedua sasaran jadi mati gaya. Saat matahari mulai menyapa rerumputan Surya Kencana, sinar lembutnya menggoda saya untuk membuat sesi pemotretan ala model, dan jadilah Tanti, Titi, Gery dan Elly menjadi sasaran camera saya, Hanung juga ikut bergabung menjadi fotographer dadakan. Pose demi pose dan jepretan-demi jepretan, tak terasa waktu terus begulir hingga tibalah saatnya kami harus meninggalkan lembah ini turun menuju Cibodas, akan tetapi harus mendaki puncak terlebih dahulu dan baru turun kemudian. Selesai packing, perlahan kami berajak meninggalkan lembah yang sudah sekian kalinya kami datangi, ya lembah ini tidak pernah bosan kami kunjungi pesona nya bagaikan keindahan seorang wanita yang begitu sempurna. Kau begitu sempurna Dimataku kau begitu indah kau membuat diriku akan slalu memujimu – Andra and the backbone. Puncak kami raih setelah perjalanan pendakian menapaki jalur jalan setapak. Beberapa teman ternyata ada yang baru pertama kali mencapainya, namun sayang cuaca tidak bersahabat, Kabul tebal menyelimuti puncak menghalangi pemandangan kawah dan lembah surya kencana. Cukup lama kami istirahat menunggu kabut tersibak, namun rupanya peruntungan tidak memihak kepada kami, bukannya kabutnya yang tersibak malah hujan yang datang menemani kami. Cuaca seperti ini tidak baik berlama-lama di puncak, kami beranjak turun menuju Cibodas, hujan makin lama makin deras dan sampai disuatu tempat dimana pernah Sobat kental dari Ori, mengalami kecelakaan kami berdo’a sejenak untuk mengenangnya. Saat turun hujan makin menjadi, hingga sampai di Pos Kandang Badak hujan semakin deras. Tapi kejutan yang menyenangkan ada disana, Buluk teman di milis #pendaki sudah menunggu dengan satu thermos kopi hangat dan nasi bungkus yang masih hangat, semuanya suka cita melihat teman yang satu ini. Saat masih di Kandang Badak saya juga bertemu Jenny Irma sahabat lama saya. Dia mendaki dengan tiga orang temannya. Hujan semakin deras tidak ada tanda untuk berhenti, langkah dilanjutkan. Dari Ipod saya mengalun November rain – gun n roses, mengiringi langkah saya menembus lebatnya hujan. Pos demi pos dan shelter demi sheter dilewati, hujan terus menguyur hanya sejenak berhenti dan kemudian kembali deras mengguyur. “Benar-benar November rain.” Gumam saya sendiri. Pos TNGP Cibodas kami raih sekitar jam 4 sore, kemudian kami beristirahat di Pondok Relawan Montana, menunggu hujan reda. Pendakian ini begitu berkesan bagi saya, banyak sahabat baru yang bertemu. Kehangatan sebuah persahabatan begitu terasa mengalahkan dinginnya hembusan angin gunung, pekatnya kabut lembah dan derasnya hujan di bulan November, ya sahabat sangat menyenangkan sekali bersama kalian bersama menikmati “November rain di Gunung Gede”.
|  | Ikutan sama teman-teman dari milis #Pendaki, ke gunung Gede. naik dari Putri turun di Cibodas. Pas naik ngga hujan tapi pas turun di hajar oleh "November Rain" tapi pendakian ini terasa sempurna karena nikmatnya kebersamaan.... |
|  | Perjalanan mengunjungi atap bumi Sriwijaya, ngga banyak fotonya karena sepanjang perjalanan kami ditemani hujan, kabut dan badai jadi karena sayang camera dan takut basah jadi jarang dipakai dah.... Syukur pas di puncak cuaca bersahabat sehingga teman-teman bisa mejeng.. Di Palembang sempat muter-muter, cuma sayang ngga sempat mampir di pulau Kemoro, sebuah pulau yang ada ditengah sungai Musi |
|  | Ini adalah sepenggal rekaman pendakian bersama ke Tambora dan side trip ke Pulau Satonda dan Gili Trawangan. Sebuah perjalanan yang menyenangkan dan dengan teman-teman yang menyenangkan. |
|
|