Saat memasuki kantin yang terletak di belakang gedung disebelah gedung kantor saya, terlihat memang suasananya cukup ramai, masih beberapa bangku yang kosong, berhubung sendiri mau tidak mau saya pesan makan terlebih dahulu dan setelah itu baru menuju ke arah bangku yang masih kosong, namun rupanya kebanyakan bangku tersebut sudah diblok oleh orang yang tengah duduk disana untuk teman mereka. Wui…, masak makan berdiri.., batinku sedikit kesal. Namun kemudian mataku tertumbuk pada bangku kosong di tempat yang paling ujung dan segera saya menuju kesana, disana ada dua cewek yang duduk berhadapan, namun dua bangku yang berhadapan juga disamping mereka masih kosong. Sedikit nanya basa-basi apakah bangkunya kosong, mereka menggangguk sejenak dan kemudian tenggelam lagi dalam obrolan mereka, dan saya pun tenggelam menikmati santap siang. Cuaca mendung siang ini, mungkin ini yang membuat orang-orang jadi ogah makan jauh-jauh dan rame-rame memenuhi kantin.
“Elo coba kasih shock terapi dong..!!!” saya sedikit kaget mendengar kalimat yang cukup kencang yang keluar dari mulut salah seorang cewek yang duduk disamping saya tadi. Sebut saja cewek itu namanya si A dan sementara lawan bicaranya yang duduk disamping saya sebut saja si B. “Gue harus gimana lagi? Setiap gue tanya selalu aja jawabannya ngelantur”, jawab di B menanggapi ucapan keras si A tadi. Sebenarnya saya tidak mau menguping obrolan mereka tapi karena meja kami menjadi satu (padahal sih mejanya satu-satu bisa dipisah) sehingga membuat obrolan mereka jelas terdengar, secuek apapun saya tetap terdengar. “Elo ngga bisa begini terus dah berapa lama elo jalan sama dia,” lanjut si A. “ life is go on…..” sementara si B hanya diam dan menyulut lagi sebatang rokoknya menyambung rokok ditangannya yang sudah menjadi puntung. Gile ngerokoknya kayak sepur, batin saya sambil nyengir dalam hati. “Sudah seberapa jauh sih elo? Sorry nih bukan gue mau tau tapi kalo memang begitu-begitu aja kenapa masih dipertahankan? Itu jalan ditempat namanya, dan elonya jadi kayak gini…..” ujar si A sembari menghembuskan asap rokok mengakhiri kalimatnya. Si B masih diam dan dari sudut mata saya tampak dia menunduk. Ritme makan saya biasanya cepat tapi entah kenapa kali ini sedikit lamban, ah…, rasa keingintahuan saya menjadi besar, lagian salah sendiri mereka curhat-curhatan di kantin yang rame gini. “Gue sudah pernah omongin apa kita gini-gini aja? Tapi dia nya bilang, pasti sayang.. kita bakal menuju ke titik yang kita impikan berdua..” jawab si B dengan kalimat yang perlahan tapi jelas terdengar oleh saya. “Hu.!!! Titik yang diimpikan, janji doang dia tuh.” Tungkas si A cepat sambil mematikan puntung rokoknya dengan menekannya keras ke asbak. “elo dah pernah kasih shock terapi belum sama dia??” lanjut dia lagi, “Shock terapi gimana maksud elo?” tanya si B sembari menghisap rokoknya. “Iya elo kasih ultimatum aja ke dia, kapan mau lamar elo, kasih dia batas waktu, kalau dia ngga menepati batas waktu itu udah elo tinggalin aja dia, cowok tuh kudu digituin, kalo dia emang mau serius sama elo pasti dia akan berusaha memenuhi ultimatum elo, tapi kalo dia santai aja, yah… sebaiknya elo mulai belajar untuk mencari yang lain.” Kata si A sembari menatap tajam si B. Ooo rupanya itu toh masalahnya kembali saya membatin, dan kembali saya jadi ingin tahu jawaban si B. “Tapi gue mencintai dia…” jawab si B sembari perlahan menghirup teh botol yang dari tadi dimain-mainkan dengan jemari kirinya. “Sebel juga sih, tadi dia ngga balas sms gue waktu gue tanyain lagi soal beginian..” lanjut si B, sementara si A menghela nafas mendengar perkataan si B.
“Cowok kayak dia perlu di kasih ultimatum begitu, walaupun hanya untuk sekedar ngetes, dulu cowok gue waktu dia masih belum kerja dan masih males-malesan, pernah gue kasih ultimatum. Kalau dia emang mau sama gue, dia harus kerja terserah mau kerja apa kek, soal gajinya gue ngga perduli yang penting dia kerja. Dan akhirnya dia kerja juga..” kata si A lagi dan selanjutnya mereka berdua terdiam. “gue kesal dan benci dengan keadaan gini” gumam si B dan terdengar agak serak, dan kemudian diam lagi.
Tiba-tiba dering HP si B memecahkan kesunyian mereka, “ya sayang aku sedang makan sama teman, kamu dah makan belum?” lembut sekali terdengar kalimat yang meluncur dari mulut si B, menjawab telpon itu dan tangannya ngasih kode ke Si B dan bisa saya artikannya sebagai “dia yang nelpon”. Saya cukup surprise melihat perobahan yang cukup cepat dalam suara yang keluar dari mulut si B, tadi terdengar begitu frustasi dan BT sama si cowok yang tengah berbicara dengannya di telpon itu, namun begitu orangnya telpon tidak terlihat sama sekali hal-hal tersebut, semua kalimat percakapan yang keluar dari mulut si B terdengar mesra sekali. Sementara si A terlihat mulai memainkan HP nya dan setelah itu juga tenggelam dalam percakapan dengan orang diseberang HP nya. Hidangan makan siang saya juga sudah habis, dan setelah menghirup sedotan terakhir dari teh botol sayapun berdiri dan beranjak meninggalkan kantin tersebut. Sepenggal cerita kehidupan anak manusia tadi yang menjadi pengantar makan siang saya, boleh jadi menjadi sebuah potret kehidupan yang banyak dialami banyak wanita saat ini.
Ahh langit Jakarta mendung dan gerimis perlahan turun, saya kembali ke kantor dan kembali kekesibukan semula. Namun masih sempat menuliskan blog ini hanya sekadar menjadi cerita siang di sebuah kantin.