Touch the soul of mountain

Journal

Tadi sewaktu jam makan siang seorang teman curhat sama gue, dan pasti bisa ditebak, tidak lain adalah masalah cinta. Teman gue ini orang Padang dan ceweknya orang Padang juga, mereka memang baru sekitar 4 bulan berhubungan, saat teman gue ini tugas ke luar negri dan secara tidak sengaja bertemu cewek ini di KBRI, ceweknya ini masih kuliah disana. Singkatnya mereka jadi akrap hingga mereka memutuskan untuk serius melangkah ke next level hubungan mereka yaitu perkawinan.

Dan ternyata….., cinta mereka terbentur ada istiadat yang memang tidak bisa ditawar. Suku Minang (orang Pandang) sama halnya dengan Suku Batak, mereka mempunyai marga atau di Pandang disebut dengan suku, bedanya kalo di Batak marganya dari bapak tapi  kalau di Padang marganya dari Ibunya. Ada aturan keras yang melarang satu suku atau satu marga dilarang kawin, karena dianggap mereka bersaudara. Nah teman gue ini ternyata sama-sama bermarga/bersuku TANJUNG, ini baru diketahuinya tadi pagi sewaktu dia dan ceweknya chatting dan mulai saling bertanya, karena keduanya besar di Jakarta sehingga omongan mengenai marga atau suku ini luput selama ini dari obrolan mereka baru setelah si cewek ngobrol dengan ibunya dan ibunya sang cewek ini menyuruh menanyakan apa marga/suku dari cowoknya, dan ternyata mereka satu suku.

“Hendri, elo kan orang Padang juga, gimana menurut elo soal ini?” begitu Tanya dia saat curhat siang tadi.

Gue bingung, karena gue kan ngga ngerti juga detail adat padang, gue juga besar diluar Minang. Dalam pikiran gue juga terbersit apakah hal tersebut bisa dilanggar, karena sepertinya dalam pemakaian marga/suku ini orang padang ngga seketat Batak yang selalu mencantumkan dibelakang namanya untuk marga/sukunya.

Nah gue nanya nih bagi orang Padang yang ada di MP ini kalo seandainya teman gue ini nekat menikah apakah ada sangsinya dan lagi kan mereka dah jauh banget, yang cewek orang Bukitinggi dan yang Cowok orang Lubuk Alung. Apakah mungkin meraka masih sedarah??? Kalo menurut agama islam sendiri sedarah itu kan dari Bapak???

Tolong bantuin dong yang ngerti adat  Padang…..


Blog EntryDicari Climbing Partner ke Mt. Cook.Jul 15, '08 10:29 PM
for everyone

Sebetulnya ini dah lama ada rencananya, gue bersama Ori dari milis Highcamp, Bongkeng dari milis Natrekk dan Nanda dari milis Pendaki, kita berencana mau ke Mt. Cook tahun ini tapi Bongkeng dan Ori gagal, sedangkan Nanda waktu itu belum sempat positif ikut.

Keinginan untuk kesana tetap ada, karena setelah dihitung ternyata lebih murah daripada Carstenzs, plus ditambah lagi Mt. Cook ini mekipun tingginya kurang lebih hanya 3600 meteran tapi karakteristik medan pegunungan bersaljunya lengkap, bahkan disana juga ada SERAC seperti yag ada di Khumbu Ice Fall nya Everest hanya ngga segede-gede raksasa kayak di Everest. Jadi bagus baget untuk pengalaman.

Nah gue nyari teman nih buat ke gunung ini, dan tentu saja biaya sendiri-sendiri, idealnya sih 4 - 5 orang termasuk gue.

Requirement skill yang dibutuhkan adalah basic rock climbing (ngerti rope management, simpul dasar, bikin pengaman dan lainnya). Untuk Snow skill nya ntar gue ajarin.
NOTE: mohon maaf banget bagi teman-teman yang baru mengenal rock climbing karena keterbatasan waktu sangat terpaksa tidak bisa untuk ikut karena Gunung Mt. Cook ini merupakan technical snow climbing jadi kalo harus ngajarin lagi dari awal untuk basic Rock Climbing, ngga ada waktunya.

Gue dah punya data lengkap gunung ini karena dah sempat mempersiapkannya tahun lalu. Hanya mungkin untuk cost perlu perbaikan lagi karena ada kenaikan pada tarif angkutan udara.

Nah bagi yang berminat silahkan kontak gue, estimasi adalah tahun depan kita akan pilih musim pendakian yang paling bagus. Terus soal biaya ntar sembari jalan kita usaha cari sponsor atau dagang apa kek gitu hehehehe...

Perkiraan Biaya:
Pesawat PP US$1302.20
info biaya lainnya menyusul ya...

Hingga saat ini baru ada satu orang yang berminat, jadi yang berminat silahkan kontak gue di hendriagustin@yahoo.com.sg


Salam
Hendri
 


Blog EntryRute Trekking Lingkar LeuserJun 30, '08 1:09 AM
for everyone

Ini adalah sebagian dari rute pendakian gunung Leuser dari Ekpedisi Leuser highcamp 2008 tempo hari dan telah saya plotkan ke Peta. Jalur sebelah kiri adalah rute normal dari Pucuk angkasan menuju Bivak kaleng via Papanji. Sedangkan rute yang kanan adalah rute pulang yang kami rintis dari Bivak kaleng melewati punggungan Kuta Panjang dan menyeberang anak sungai alas dan sungai alas. Rute rintisan ini kami namakan rute highcamp, terus terang rute ini masih kasar dan cukup jauh. Tapi ada rencana kedepan saya dengan teman-teman di Kedah (Kompas USU) serta seorang teman yang concern banget dengan TNGL berencana akan membenahi rute rintisan kami dengan mengulangnya melewati punggunan Kuta panjang terus tembus hingga ke anak sungai alas.

 

Saya berharap rute ini kelak bisa dipakai, sehingga TNGL tidak hanya mengandalkan puncak Leuser dan Loser, akan tetapi juga mempunyai jalur treeking berputar yang mempunyai pemandangan yang indah. Jadi kita punya rute trekking panjang ala Apalachian Trail di US sana. Walaupun tidak sepanjang Apalachian Trail tapi jika rute lingkar Leuser ini terwujud akan cukup menantang karena untuk mengitarinya akan butuh waktu kurang lebih seminggu (masih perkiraan kasar)

 

Semoga rencana ini bisa terwujud...


Tak terasa sudah lewat seminggu semenjak kepulanganku dari Leuser, atapnya tanah rencong Aceh. Namun “13 days in the mountain” meninggalkan banyak sekali hal yang membuat aku melihat sisi lain dari diriku sendiri disaat berhadapan dengan alam rimba raya gunung Leuser. Selama 13 hari ada banyak hal yang muncul di benak ini dsaat aku terdiam menapaki terjalnya tanjakan rute Pucuk Angkasan yang tanpa ampun terkadang membuat nafas terasa tercekik, saat aku menahan nafas menguatkan hati meski badan ini sudah kecil tetap saja tersangkut sewaktu merayap melewati pohon tumbang di hutan lumut, atau saat aku terdiam menatap Puncak Loser yang masih jauh dan berwarna sangat biru dari puncak kayu manis, padahal kami sudah 3 hari berjalan, juga saat aku termagu menatap indahnya bunga warna warni disebuah bukit berbunga yang mirip dengan bukit Teletabis, dan saat gigi-gigi ini gemeretuk menahan dingin kala dihantam hujan dan badai di daerah Bivak Batu, juga saat duduk terdiam menikmati indahnya sore di puncak Loser, atau saat diam menatap aliran sungai yang sudah diseberangi entah yang keberapa kalinya disaat pulang dengan membuka rintisan jalan.  Disaat-saat moment seperti itulah berbagai hal muncul mendadak di benak ini. Bahagia, sedih, kesal, dan haru, semua menyatu dalam diamku.

 

Sudah lewat seminggu pucuk-pucuk biru dari pegunungan Leuser sudah tak tampak lagi dipelupuk mata, dan kutu air dikaki juga sudah sembuh, punggung tangan yang hitam legam kebakar matahari yang hanya nongol 3 jam sehari juga sudah beransur pulih, bolong-bolong luka tangan karena tertusuk duri rotan yang tajam dan pajangpun sudah sembuh, meski pegal dipinggang akibat terantuk pohon sewaktu tubuh ini sempat meluncur turun kala injakan dan pegangan mendadak rontok disebuah gigiran jurang masih sedikit terasa (perlu cek dokter kali ya). Tapi yang membuat ku bergidik sendiri adalah napsu makanku yang masih gila, bahkan si Uni yang “ranca bana” pemilik warung padang di dekat kantorku masih terbengong-bengong melihat aku bisa nambah hingga tiga kali dan bukan itu saja dalam perjalanan pulang ke kantor aku masih sempat ngemil dua roti boy dan beli es es cream di starmart basement gedung kantorku, memang aku mengakui Leuser mengambil 6 kg bobot tubuhku mungkin karena itulah selera aku kayak kesetanan gini.

 

Seminggu lebih lewat sudah, dan aku tidak lagi memasakkan makanan buat dua sahabat tercintaku Maman dan Joan, dua porterku yang baik, Pak Esa dan Udin dan Guide Leuser yang tenar Mr. Jali. Bersama mereka melewati “13 days in the mountain”, bersama melihat keindahan yang belum tentu semua orang bisa menikmatinya. Sahabatku Maman dan Joan, bahagia sekali bisa menikmati keindahan itu semua bersama kalian, menikmati saat-saat kita terpukau oleh indahnya Leuser, menikmati saat-saat kita kesal waktu tahu di pondok tidak ada apa-apa, dan menikmati saat-saat lucu dimana kita bertiga harus berganti baju dalam satu tenda karena hujan diluar yang ngga kenal kompromi juga angin yang ngga mau berdamai. Terima kasih sahabat kalian telah melengkapi perjalanan ini menjadi sangat berarti bagiku, perjalanan yang juga terasa bagai sebuah semedi, karena banyak hal yang kudapat dan kusadari.

 

“13 days in the mountain”, senang bisa kembali lagi dengan selamat.

Blog EntrySpeechlessMay 5, '08 12:18 AM
for everyone

kau hadir disana
dengan segala pesona yang kau punya
bahkan Ranukumboloku dan mandalawangiku
seakan tak mampu menandingimu

dan, kerinduan ku
pada wewangian rumput gunung
dan dinginnya kabut gunung
seakan tak mampu
menepis semua pesona itu

ya, kaulah
pantai berpasir lembutku
yang bermatahari teduh....


Blog EntryKau kah Soul mate ku........Apr 29, '08 4:05 AM
for everyone

Soul mate, kata tersebut sering sekali kita dengar dan banyak yang mengartikannya sebagai pasangan sehidup semati. Lalu apakah pasangan anda merupakan Soul mate anda? mhmmmm secara kebetulan saya nemu artikel menarik dari sebuah booklet Healty life yang nemu ngga sengaja di meja temanku dan aku sadur untuk berbagi disini sapa tau ada yang belum baca.

Thomas More, dalam bukunya, Soul mate: Honouring The mysteries of love and relationships, memaparkan bahwa soul mate tak bisa dijelaskan secara mekanistis dan logis, tidak pula mengikuti suatu standar baku sosial. Fenomena soul mate hanya bisa di apresiasi melalui spriritual. Kalau Anda mencari soul mate Anda, maka carilah di tempat yang terdalam di dalam diri Anda: lubuk hati.

 

Thomas More, mendefinisikan soul mate sebagai “seseorang yang membuat kita merasa terhubung secara mendalam, seolah-olah komunikasi dan pertemuan yang terjadi bukan hasil kesengajaan, melainkan rahmat Tuhan. Hubungan ini begitu penting bagi jiwa kita sampai ada yang mengatakan tak ada yang lebih berharga dibandingkannya dalam hidup ini.”

 

Apakah dia soul mate ku?

Bob lancer, dalam bukunya, The Soul Mate Process, memberikan beberapa indiksi yang dapat membantu anda memastikan apakah anda bertemu dengan seorang soul mate. Inilah  beberapa di antaranya:

 

  • Jatuh cinta pada pandangan pertama
  • Merasa anda sudah pernah bersamanya sebelumnya dan saling memahami secara mendalam meski baru pertama kali bertemu
  • Ada perasaan yang kuat dari dalam bahwa anda ditakdirkan untuk bersamanya
  • Adanya energi yang begitu kuat yang membuat anda jadi tak stabil sampai anda mendapatkan kesadaran dan keijakan untuk menyalurkannya
  • Ada rasa bimbingan kekuatan yang Mahakuasa (higher Power) untuk hidup bersama.

Namun, David Stone mengingatkan bahwa hubungan romantis dengan soul mate bukan tanpa rintangan sama sekali. Sebagai soul mate, Anda berdua mungkin memiliki hubungan yang amat mendalam, namun itu tak menjamin hubungan akan baik-baik saja. Begitu pun, dengan hubungan yang lain. Selalu ada ujian, cobaan, rintangan, dan tantangan yang sebenarnya untuk meningkatkan hubungan anda tersebut.

 

Nah..., apakah dia soul mate anda.....????


Blog EntryKerinduanku padamuApr 21, '08 3:40 AM
for everyone

Ku datang lagi padamu Ranukumboloku
karena riakmu
karena kabutmu
dan karena desau cemaramu
yang selalu memanggil mesra jiwaku

Ku datang lagi padamu Mahameruku
melayari hening lembahmu
mengarungi padang rumputmu
menciumi aroma hutanmu
dan mendekap keheningan malammu

Ku datang lagi padamu gunung-gunungku
karena semua yang ada padamu
tak akan pernah sama bagiku


Blog EntrySuatu Malam di MandalawangiApr 16, '08 3:58 AM
for everyone

Pada anginmu kutitipkan asa
pada kabutmu kutitipkan rasa
dan pada kuncup edelweissmu kutitipkan cinta
Mandalawngi..., tau kah kau dimana dia...

dan malam itu
Kudiam dalam dekap heningmu
kuresapi dingin kabutmu
kunikmati pedar rembulanmu
Mandalawangi...,kenapa kau buat ku merindu

 

(foto by emma)


“udah di tol TB Simatupang, bentar lagi nyampe. Aku naik taxi jadinya”, demikian sms yang saya terima dari Joan. Selain Joan, Anno dan Rita juga belum muncul. Teman-teman peserta ultralight hiking ke Gunung Pangrango lainnya sudah stand by di Terminal Kampung Rambutan. Kali ini memang perjalanan yang kami rencanakan adalah ke Gunung Pangrango yang berada dikawasan TNGP, dan karena adanya aturan baru yang hanya membolehkan pengunjung untuk menginap didalam lokasi TNGP hanya semalam dan tidak boleh lebih ini akhirnya membuat saya menerapkan prinsip ultralight hiking dalam perjalanan bersama kali ini. Ada banyak sekali pemahaman tetang prinsip Ultralight hiking ini, namun yang jelas adalah suatu prinsip yang mengutamakan bobot yang enteng dan multifungsi serta juga inovatif pada peralatan yang digunakan selama perjalanan pendakian. Minimalis disini bukan berarti mengabaikan keselamatan akan tetapi tetap jenis peralatan yang dibawa sama saja dengan peralatan pendakian gunung lainnya hanya saja lebih ringan, kompak dan multifungsi.

 

Tak lama kemudian Joan muncul dengan ranselnya, mhmmm sedikit gede ya…. Dan kemudian terakhir nongol Anno dan istrinya Rita. Lengkap sudah kami semua, dari Jakarta ada saya, Maman, Budi, Andi, Asep, Rico, Hermon, Ricky, Reza, Nancy, Joan, Anno, Rita dan the pair always yaitu Ella dan Irfan. Dari bandung the pair always juga yaitu Dipa dan Dian, dari Bogor sedianya Danis dan Ike tapi Ike mendadak batal karena ikut dengan teman-temannya, tujuan nya masih sama yaitu Gunung Pangrango, yang istimewa adalah Heru owner dan moderator milis highcamp ikut mengantar kami hingga ke Cibodas. Perlahan bus Ekonomi tujuan Garut via puncak bergerak meninggalkan terminal jarum jam sudah menunjukan pukul 9 lewat, namun supir bus ini rupanya senang sekali ngetem disetiap perapatan pasti behenti dan akhirnya setelah ngetem cukup lama barulah bus melaju dengan kecepatan normal membelah udara dingin malam kawasan puncak. Saya mencoba meneruskan tidur yang tadi terganggung saat bus ngetem di Ciawi, tapi tak kunjung berhasil, hingga akhirnya bus mendekati kawasan Cimacan tepatnya pertigaan Cibodas dimana kami harus turun., dan kemudian dilanjutkan dengan angkot hingga ke warung mang Idi yang akan menjadi tempat peraduan kami malam ini hingga esok hari.

 

Sekitar jam 5 pagi kami semua sudah mulai siap-siap, di luar warung tampak Ori dan Leo masih asyik ngobrol. Semalam Ori (owner dan moderator milis HC) datang menyusul ke Cibodas bersama 2 orang temannya dan Leo yang datang bersama Suwasti juga akan mendaki ke Pangrango. Leo dan Suwasti bersama dua orang temannya yang lain akan mendaki Pangrango tapi bukan ala UH seperti kami. Sekitar jam 6.30 kami mulai bergerak menuju pos TNGP dan setelah lapor kami memulai perjalanan ini dilepas oleh dua orang owner dan moderator milis HC yaitu Ori dan Heru.

 

Pagi ini udara tidak begitu cerah, kabut menggantung di puncak Pangrango, perjalanan terasa begitu enteng bagi saya, ya mungkin karena beban dipunggung yang Cuma 11 kg membuat langkah jadi enak dan juga saya bisa lebih enjoy dengan suasana hutan TNGP pagi itu. Semakin siang rombongan mulai terpecah menurut kelompok sesuai dengan kecepatan masing-masing. Manurut rencana tadi sewaktu briefing sebelum berangkat kami akan makan siang di Kandang Badak. Sementara cuaca semakin gelap oleh kabut dan benar saja sewaktu mendekati daerah kandang Badak hujan turun membasahi kami, untunglah kami membawa payung karena sebelum berangakt kami mendapat informasi bahwa di kawasan TNGP hingga saat ini masih sering turun hujan.

 

Sekitar jam 12 siang satu persatu dari kami mulai bermunculan di Shelter Kandang Badak, hujan semakin deras. Kami membuka nasi bungkus bekal makan siang kami yang sudah kami siapkan semenjak dari warung Mang Idi tadi pagi, dan buat saya sebagai menu tambahan lalapan daun Pokpohan yang banyak terdapat di TNGP ini menjadi teman lauk lainnya berserta nikmatnya sambal bajak. Perut yang sudah keroncongan segera terisi nasi dan selesai makan penyakit kantuk mulai menyerang dan di perparah oleh hujan yang membuat suhu menjadi dingin semakin membuat mata ini menjadi berat dan ingin tidur. Tapi tidak bisa, karena shelter Kandang badak ini sangat kotor dan becek, jauh dari kata nyaman tidak seperti shelter kandang badak ditahun 80an dulu sangat bagus berupa pondok ala rumah panggung yang terbuat dari kayu, nyaman dan hangat.

 

Jam 1 siang hujan sudah mulai agak reda dan kamipun kembali melanjutkan perjalanan, tapi kondisi jalan trek menuju puncak pangrango sungguh diluar dugaan, banyak sekali pohon tumbang yang menghalangi jalan sementara hujan yang kembali turun cukup membuat kami kewalahan melewati rintangan alam berupa pohon tumbang dan semak belukar yang menutupi jalan setapak. Belum lagi jalur yang tadinya melingkar-lingkar untuk meminimalisir tanjakan terjal sekarang sudah tertutup dansebagai gantinya jalur potong kompas direct yang terjal bertanah serta licin dan dipenuhi oleh akar pohon dan tak jarang bahkan batang pohon yang malang melintang, membuat beberapa teman yang tidak mengunakan prinsip UH (baca: pake ransel besar) sepertinya harus terbungkuk-bungkuk di areal itu. “emang lewat sini nih bang jalurnya.??” Teriak Irvan memandang jalur bertanah tegak lurus didepannya dengan pandangan putus asa. “Ya ada sih jalur lamanya tuh yang sebelah sana tapi kayaknya dah ketutup semak,” jawab saya sambil menunjukan jalur melingkar sebelah kiri saya. Sedangkan saya dan Ella memilih jalur direct bertanah ini saja.

 

Sesekali saya berteriak untuk mengukur jarak teman-teman dibawah kami, karena saat ini saya, Irfan, Ella, Nancy dan Ricky ada didepan dan tidak jauh dibawah ada maman, Anno dan Rita. Terdengar dua teriakan sahutan, yang satunya agak dekat dan satunya lagi cukup jauh. Mhmm rupanya rombongan belakang agak jauh tercecer. Akhirnya kami yang didepan memutuskan untuk menunggu di puncak saja. Dan sekitar jam 4 sore, rombongan pertama kami sampai dipuncak sempat berfoto sebentar dan udara makin dingin saya memutuskan untuk menunggu di Mandalawangi saja agar bisa mendirikan tenda dalam keadaan masih siang dan jika teman-teman datang minimal sudah ada tenda yang berdiri.

 

Mandalawangi kami raih saat kabut menggantung diatas pucuk-pucuk edelweiss yang bertebaran di tanah lapang ini, kuncup-kuncup daunnya basah oleh tetesan air hujan. Kesegaran bunga abadi perlambang cinta sejati ini semakin menyulut semangat dan kegembiraan saya.  Kami mendirikan tenda diantara pepohonan edelweiss, sayang sekali saat ini bukan musimnya bunga abadi ini mekar jadi semerbaknya tidak terpancar ke penciuman kami. Tak lama berselang tenda berdiri, muncul Joan dengan Budi. Tampak Budi lemas sekali dan benar saja menurut informasi Joan dia sempat muntah-muntah di jalur trek tadi, dia langsung masuk kedalam tenda Maman dan beristirahat. Setelah saya perhatikan kondisinya sepertinya dia masuk angin dan kelelahan saja. Menjelang magrib semua rombongan telah sampai Mandalawangi. Saya dari siang tadi waktu istirahat makan siang di kandang Badak dilanda kantuk yang lumayan berat, mungkin karena semalam hanya sempat tidur 2 jam. Akhirnya saya mencoba tidur sejenak, dan tak disangka terlelap hingga jam 8 malam, baru terbagun saat saat mendengar suara Joan yang menawari Nancy makan. “lapar juga,” gumam saya perlahan. Dan akhirnya saya bangun untuk masak, dan setelah the manis hangat saya seduh mulailah saya memasak nasi dan kemudian merebus buncis sebagai lalapan. Lauk pauknya saya sudah menyiapkan lauk mateng yaitu rendang dan orek tempe campur kacang tanah dan teri, dan tak lupa sambal bajak untuk cocolan lalapan. Semua tenda sudah tertutup rapi kecuali tanda saya yang masih ada aktivitas. Agaknya selagi saya tidur tadi mereka sudah masak dan makan.

 

Saya perhatikan kabut mulai menghilang, dan suasana hening di Mandalawangi benar-benar sempurna saat itu tidak ada angin dan suara binatang malam. Langit tampak gelap tapi sedikit baisan rembulan menyembul menambah nikmatnya kesuyian di lembah yang dicintai oleh banyak pendaki ini, termasuk Joan salah seorang pendaki dalam kelompok saya.

 

“aku tuh belum pernah nginep di Mandalawangi sebelumnya, dan sekarang kesampaian,” ujar dia terlihat gembira saat membicarakan hal tersebut keesokan harinya.

 

Tak lama kemudian nasi saya mateng dan ternyata saya masaknya kelebihan, tidak apalah buat besok pagi kalo ngga habis hibur saya pada diri sendiri. Nikmat sekali makan malam sederhana ini ditengah sunyinya Mandalawangi. Dan perlahan rembulan menampakan dirinya. Dan sosok Mandalawangi malam itu perlahan terkuak.

“Perfect…” ujar saya perlahan.

Ya sempurna perjalanan ini, “Ada hujan….., ada kabut….., ada rembulan di Mandala wangi.” Kembali saya bergumam sendiri.

“Sayang sekali kau tak disini…” kali ini hati kecil yang bergumana…

 

Selesai makan saya mencoba untuk berbaring, tapi susah sekali tidur. Laaamaaaaa baru akhirnya tertidur juga, itupun setelah menghayalkan bermacam-macam hal termasuk kamu yang tidak disini.

 

Pagi masih dingin, dan terdengar suara Joan yang gembira sekali berada di Mandalawangi ini, agaknya itu anak cinta banget sama tempat ini seperti halnya mendiang Soe Hok gie yang namanya tak seakan menyatu dengan Mandalawangi ini. Hal tersebut tertuang dalam puisinya yang berjudul "Mandalawangi - Pangrango".

 

Senja itu, ketika matahari turun ke dalam jurang-jurangmu
aku datang kembali
ke dalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu.

Walaupun setiap orang bicara tentang manfaat dan guna,
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku teima dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku.

Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala,
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta

Malam ini ketika kebisuan menyelimuti Mandalawangi,
kau datang kembali dan bicara tentang kehampaan

Hidup adalah soal, keberanian, menghadapi yang tanda tanya
Tanpa kita bisa menawar
“ Terimalah dan Hadapilah ! “

Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara,
aku terima semua itu
melampaui batas hutan-hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu.

Aku cinta padamu Pangrango,
karena aku cinta keberanian hidup !

 

Jakarta, 19 Juli 1966

Soe Hok Gie

 

Seperti biasa kegiatan pagi di areal camp Ultralight Hiker ini mulai hidup bunyi dentingan periuk trangia dan raungan kompor gaz Primuss seakan mengisi suasana pagi di tempat sunyi ini. Sesekali gerimis masih turun namun, sempat sejenak mentari muncul malu-malu dan kemudian hilang lagi ditelan mega yang berarak. Satu tim pendaki lain sapai pagi tiu di Mandala Wangi, rupanya Emma dan kawan-kawan, saya sempat menayakan Danis salah satu peserta UH yang tercecer di jalan dan ditunggu disetiap tikungan tapi ngga nongol juga. Rupanya Danis gabung dengan kelompok Emma, dan menginap di Kandang Badak tapi dia tidak meneruskan ke Mandala Wangi,  syukurlah ujar saya mendengar informasi tersebut.

 

Bersamaan dengan kami ada beberapa kelompok pedaki yang mengunjungi gunung ini yaitu kelompok Emma, kelompok Ike dan Kelompok Suwasti, dan semuanya merupakan teman-teman kami juga. Hanya yang terlihat di Mandala Wangi pagi ini, kelompok Emma dan Ike saja, sedangkan Suwasti tidak kelihatan batang hidungnya.

 

Kabut kembali menyelimuti areal Mandala Wangi, saat kami bergerak meninggalkannya dan setelah berfoto bersama di puncak kami segera turun. Tidak ada yang istimewa selama perjalanan turun, hanya kondisi jalur trek yang hancur membuat kami ekstra hati-hati saat melangkah. Di air panas secara tak terduga saya bertemu teman lama yang saya kenal di gunung Salak, Pak Bambang pria yang sudah cukup berumur ini tampak masih seger dan kuat menapaki tanjakan-tanjakan gunung. Di lokasi ini kami beristirahat sembari menunggu teman dibelakang. Sempat terdengar berita Anno kakinya oglek (ngilu dilutut saat dibengkokan menuruni jalan setepak), wah pasti dia akan lama jalannya, pikir saya. “udah jalan duluan aja ntar dia gue tungguin” ujar Rico menawarkan bantuan saat teman-teman yang lain mulai beranjak meneruskan perjalanan turun. “ya udah kalo gitu , tolong ya Ric” pinta saya pada Rico. Selain Rico Reza juga menderita kaki oglek

 

Akhirnya saya dan teman-teman sampai di Pos lapor Cibodas jam 5 sore, setelah berkali-kali istirahat menunggu teman-teman dibelakang namun tak kunjung muncul. Setelah lapor sama petugas volunteer, dan menginformasikan nama-nama yang dibelakang, lalu kami bergerak turun menuju warung Mang Idi di parkiran Cibodas untuk bersih-bersih dan istirahat menunggu teman-teman di belakang.

 

Satu persatu teman-teman muncul dan yang paling terakhir muncul adalah Anno, Rita dan Reza, jarum jam saat itu sudah menunjukan jam setengah tujuh lewat. Semua kumpul kembali dan bersiap-siap untuk kembali kepada kesibukan rutin setiap harinya. Perjalanan ultralight ini cukup sukses meskipun masih ada teman-teman yang memakai peralalatan yang bukan ultralight, tapi apa boleh buat toh saat ini peralatan UH masih susah didapat di Indonesia, dan mudah-mudahan produsen peralatan pendakian lokal melihat kesempatan ini dan mulai membuatnya.

 

(Foto-foto by: Ella dan Rico)

 


Blog EntryEquipment Check >> Ultralight HikingApr 10, '08 10:13 AM
for everyone
Rencana untuk Ultralight Hiking dengan teman-teman dari mailing list highcamp ke Gunung Pangrango akhir pekan ini kayaknya sudah cukup persiapannya. Seluruh perlengkapan untuk dua malam satu hari sudah packing up dan tinggal hari H nya beli logistiik makanan saja. Pada gambar diatas adalah perlengkapan yang saya bawa nanti, salah satu kebiasaan saya dalam persiapan sebelum pendakian adalah menginventarisir perlengkapan yang akan dibawa agar tidak ada yang tertinggal.


Berikut adalah keterangan dari setiap perlengkapan diatas:

1.North Pole Ultralight sleeping bag
2.Artiach ultralight inflatible mattress
3.TNF APEK Jacket
4.TNF tekwear t-shirt
5.Personal light cooking pots
6.Primuss Ultralight stove
7.Gaz canister
8.lightweight Folding mug
9.Mamuth 30Lt backpack
10.Light spoon and fork
11.Mamuth light baseball hat
12.Plastics for logistic
13.Black Diamond belt
14.Suntoo Thermo with small orientation compass
15.Victorinox knife
16.Personal First Aids
17.Oackley sun glass
18.Montbell climate vest
19.Izuka 30Lt backpack rain cover
20.Platypus drinking tube
21.Peztl mini Head lamp
22.Platypus folding bottle
23.Columbia light trekking pant
24.Umbrella
25.Tent flysheet
26.Rhino light trekker tent
27.Tent Stakes
28.Tent Poles
29.TNF AMP Hybrid Jacket
30.REI headband, montbell neck gaitor, under wear, spare shocks

Setelah semua perlengkapan tersebut diatas saya packing kedalam ransel dan ditimbang ternyata berat ransel saya total dengan perlengkapan tersebut adalah 7 Kg, dan belum termasuk logistik makanan. Paling logistk beratanya sekitar 2 kg. Jadi total plus air minum sekitar 3 kg jadi total keseluruhan beban dipunggung saya nanti saat pendakian sekitar kurang lebih 12 Kg. Masih ringan dibandingkan dengan beban umumnya saya naik gunung. Paling ntar tambah ditangan cuma trekking poles.




Blog EntryMultiply dah nga bisa di akses....Apr 7, '08 9:59 PM
for everyone

Semalam tiba-tiba saja saya BT berat, dan penyebabnya adalah situs-situs kegemaran saya (MP, Utube dan lainnya) tidak bisa diakses. Padahal siang sebelumnya dikantor masih bisa, berkali-kali dicoba tapi tidak bisa, akhirnya saya menghubungi ISP langganan dan jawaban yang mengejutkan saya terima, "maaf pak per bulan ini situs tersebut sudah tidak bisa di akses karena sudah di blok oleh pemerintah", demikian jawaban dari seberang telpon. "Lho kenapa??" tanya saya bingung, memang saya tidak mengikuti issue terkini minggu ini. "Ada surat perintah edaran dari MENKOINFO pak, yang menyatakan beberapa situs yang harus di blok, dan salah satunya situs Multiply.com." lanjut petugas ISP yang diseberang telpon. "bapak bisa baca detailnya di DETIKNET, dan bisa download surat edaran itu." ujar si petugas tersebut menerangkan lebih lanjut pada saya.

Dooohhhhh.... saya jadi BT, rupanya ISP lokal sudah dapat perintah dari pemerintah untuk memblok situs-situs yang menayakan film FITNA. Saya masih bingung lalu kenapa MP juga? apa di MP ada video FITNA???? Yah biasanya dirumah bisa santai buka MP sekarang sudah tidak bisa. Namun sedikit beruntung di kantor saya masih bisa buka karena untungnya lagi kantor saya ngga pakai ISP lokal karena konektifitasnya via satelit...., so masih bisa senyum sedikit, tapi ngga enaknya buka MP disela kesibukan kantor kayaknya gimanaaaa gitu...

Anyway by the way..., apakah pemerintah saat mengeluarkan situs mana aja yang di blok tersebut apakah sudah melewati sebuah proses peninjauan yang sistimatis dan terinci, bukannya hasil informasi asal bunyi dari seorang pakar TI yang pernah menghujat para blogger... (teman-teman pasti tau lah sapa yang ane maksud)...... :)

Tapi bersyukur pagi ini masih bisa menyapa teman-teman dengan tulisan ini....


Blog EntryKu ingin...............Apr 1, '08 10:35 PM
for everyone

ketika mata rabunku
tak mampu menatap sisa kecantikanmu
ketika gemetar tangan keriputku
tak sanggup lama membelai rambut putihmu
ketika lemah kakiku
tak kuat menopang saat menggendongmu
ketika lidah tua ku
tak jelas mengatakan aku cinta padamu

namun satu yang perlu kau tau...
ku ingin menjadi tua bersamamu....


Blog EntryAndai kau...............Apr 1, '08 9:17 PM
for everyone

Andai kau katakan cinta
kuyakin.,
badai di pikiranku kan mereda
kabut di hatiku kan sirna...

Andai kau katakan rindu
kuyakin.,
alam bawah sadarku kan mengharu biru
menyetak asa ntuk memelukmu
dan berucap..., akupun juga begitu....


Heboh soal cerita dari Novel Ayat-ayat cinta hingga filmnya, jujur awalnya saya ngga gitu tertarik paling gitu-gitu aja batin ini berkomentar saat issue AAC ini jadi booming dan jadi pembicaraan khalayak ramai.

Setelah menonton film nya ada quote yang saya sukai, yaitu catatan harian yang ditulis oleh Maria saat tahu Fahri telah menikah dengan Aisyah, Quote ini terasa dalam maknanya bagi saya. Yang sudah nonton pasti tau bunyinya yaitu: "Nil itu menjadi kering oleh mesirku yang mulai berubah..."

Dan scene yang saya suka adalah saat Aisyah yang tadinya keluar dari rumah untuk menenangkan hatinya setelah Maria tinggal bersama mereka dan akhirnya dia kembali pulang setelah di jemput oleh Fahri, scene yang saya suka itu saat mereka (Aisyah dan Maria) berpelukan, jiwa besar dan kerelaan menerima yang diperlihatkan oleh Aisyah benar-benar memukau saya (meskipun hanya berupa cerita fiksi).

 


Blog EntryMy home in the wild di ulas di Blogfam MagazineMar 28, '08 4:20 AM
for everyone

Tadi lagi asyik gawe tiba-tiba YM ada yang ngebuzzz (memang YM dibiarin OL aja) ternyata si Priha dia ngasih tau kalo ada tulisan tentang blog MP saya ini di Blogfam Magazine. Saya coba inget-inget lagi kapan diwawancaranya, belakangan baru inget wawancaranya via email, saya dikirimkan list pertanyaan dan disuruh jawab panjang lebar.

Seneng juga blog saya ada yang perhatikan :) (boleh donnggggg GR dikit hehehehehe) semoga blogger makin Okeeehhhhhhhhh...

Kalo mau baca detail nya silahkan buka link Blogfam magazine aja ya......

 


Blog EntrySendirian ke Rinjani? (kenapa tidak)Mar 10, '08 3:53 AM
for everyone

Banyak sekali orang yang ingin mendaki Gunung Rinjani yang terkenal keindahannya hingga ke manca negara itu. Tapi banyak yang terus mengurungkan niatnya atau tertunda keinginannya karena berbagai alasan, salah satunya adalah karena ngga ada teman. kalau hanya gara-gara tidak ada teman kayaknya sayang sekali. Rinjani bisa didaki sendiri kok, kenapa saya bicara begitu? ya karena Rinjani adalah satu-satunya gunung di Indonesia yang sudah tertata rapi sistim pengelolaannya. Baik dari segi informasi, guide dan porternya, bahkan sekarang dari disana sudah ada guide wanitanya.

Sendirian ke Rinjani? kenapa tidak....? anda bisa melakukannya dengan syarat yang pasti siapkan kocek anda untuk dirogoh lebih dalam, dibandingkan jika anda pergi beramai-ramai. Saya pernah melakukan hal ini, waktu itu lagi BT habis dan ngga tau harus ngapain, lantas muncul saja ide di kepala ini untuk mendaki Rinjani menghilangkan rasa BT yang tengah merajai pikiran dan hati. Saya inget sekali saat itu pas lagi BT banget dan akhirnya mutusin untuk pergi ke Rinjani, kasak-kusuk ke travel agent nyari tiket dapet Lion Air tapi ngga direct harus ganti transit di Surabaya. Ngga apalah yang penting saya bisa sampe siang disana. Terus sesampai di bandara mataram saya carter taksi gelap ke Sembalun (kalo ngga salah waktu itu Rp.200.000) di sembalun waktu itu masih ada penginapan disana saya nginep dan nyari porter, dan tidak hanya itu saya minta mereka menyewakan peralatan pendakian untuk saya, karena saya kesana hanya berbekal satu parka, satu fleece dan tiga stel pakaian ganti serta headlamp. Juga saya minta mereka menyusun menu makanan selama pendakian. Saya inget banget waktu itu saya minta menunya harus ada ayam taliwang, sup, puding nenas. dan lainnya. hebatnya porternya bilang "Ok pak siap..!"

Sekitar jam 10 malam mereka mengetuk pintu penginapan saya, dengan membawa satu set peralatan pendakian, serta logistik (ada dua ekor ayam hidup). Saya minta mereka packing saja semua dan juga minta mereka untuk siap jam 7 pagi memulai pendakian, saya kembali melanjutkan tidur dengan nyenyak. Paginya saya hanya membawa ransel daypack berisi Parka, fleece, headlamp dan botol air, serta snack kecil, lainnya dibawa porter. Saya menyewa dua orang porter.

Enjoy banget selama perjalanan, saya terus berjalan beriringan dengan porter, dan sewaktu mendekati Plawangan sembalun salah satu porter jalan duluan dan sewaktu sampe disana tenda sudah berdiri dan dia menawarkan teh manis panas pada saya...hmmmh  bener-bener enjoy sekali. Paginya berbarengan dengan pendaki lain saya muncak dan pas balik dari puncak semangkuk sup asem pedes sudah menyambut saya, saya melihat ayam yang tadinya ada dua ekor sudah tinggal seekor, rupanya yang satunya dah menjadi menu hari ini yaitu ayam Taliwang.

Siang turun ke Danau, dua malam saya menginap disana dan rasa BT yang dijakarta itu seakan terlupa semua. Mhmmm indahnya Segara anak memang melarutkan semuanya. Turun ke Senaru lumayan cepat karena kecepatan turun porter bisa saya imbangi. Masih siang sekitar jam 1 siang saya dah sampai di Senaru, segera lanjut ke Mataram dan menginap semalam disana keesokan paginya dah ada di pesawat kembali ke jakarta.

So.... Rinjani bisa didatangi sendirian, tapi harus siap merogok kantong agak dalem aja :)

 


Blog EntrySepinya Riak Citarik..... (sebuah fiksi)Feb 26, '08 1:22 PM
for everyone

“Windy….. hari ini tamunya dikit, kamu ngga usah turun ya….!!!” Teriak pak Hasan yang merupakan field manager perusahaan rafting operator dimana Windy bekerja sebagai river guide. “Biar yang cowok-cowok aja yang turun” lanjut pak Hasan, “baik pak,” jawab Windy dengan sembari mengacungkan jempol kanannya pada pak Hasan yang tengah berdiri di pinggir sungai dekat beberapa perahu karet tertambat. Windy kembali memainkan tangannya pada aliran air sungai Citarik yang mengalir dari batu tempat dia tengah duduk dari seperapat jam yang lalu. Dia begitu mencitai sungai ini dan begitu membencinya juga, Cintanya pada sungai ini yang telah membulatkan tekatnya untuk menekuni profesi river guide dan telah dua tahun dilakukannya. Rasa benci yang akhirnya membuat dia menyukai sungai ini, rasa cinta yang timbul karena seringnya dia merenung diam di sungai ini serta rasa ingin mengalahkan setiap jeramnya. Windy menghela nafas yang tiba-tiba merasa sesak didadanya, dan kembali ingatannya melayang pada kejadian tiga  tahun yang lalu.

“Hai, ransel kamu ngga bener tuh makenya, kalo dipakai seperti itu ransel kamu pasti akan menyiksa pinggang dan pundak kamu,” tiba-tiba saja sebuah suara menganggetkannya, saat itu Windy tengah berjuang terseok-seok memanggul ransel 40 liter menapaki jalan setapak rute pendakian Taman Nasional Gede Pangrango di Jawa Barat. Windy dan 4 orang temannya yaitu Luna, Arri dan Lucy melakukan ide mereka naik gunung cewek saja tanpa cowok. Karena menurut Lucy selama ini mereka selalu tergantung sama cowok dan sesekali boleh dong membuktikan kemampuan sisterhood mereka tanpa bantuan cowok, bagi mereka bertiga yang sering naik turun gunung pasti ngga masalah paling bedanya ngga bisa melakukan azaz manfaat dengan menggunakan charming mereka untuk berbagi berat dengan anak cowok. Tapi bagi Windy ini adalah pendakian pertama dia, dan dia ikutpun karena hasil bujukan dari teman se-gang nya ini, dengan dalih memupuk sisterhood akhirnya rayuan tiga konco lengketnya berhasil membuat dia berada di jalan setapak gunung gede dengan beban ransel 40 liter di pundaknya.

“coba sini saya bantu mengeset ulang ransel kamu” lanjut si cowok tadi yang masih ditatap oleh Windy disela nafas nya yang tersengal-sengal. Nih cowok datang dari mana, batin Windy. Dia menoleh kedepan tampak Luna berjarak hanya 100 meter diatas dia dengan ransel merah gede kesayangannya.

 “kamu siapa? Mhm haa..mhmm ha..Kok tiba-tiba ada sini..mhmm ha..mhmm ha…? Kamu bukan hantu kan?” tanya Windy disela nafasnya yang tersengal-sengal karena tanjakan yang dilewatinya cukup tajam, memang rute gunung putri terkenal dengan tanjakannya, dari awal pendakian tadi dia mengomel panjang lebar sama ketiga sobatnya yang tega mengajak dia lewat jalur ini.

Cowok yang didepannya tersenyum, senyum pesodent, begitu julukan yang diberikan Windy setiap melihat senyum yang menampakan gigi putih rapi layaknya iklan pasta gigi itu.

“bukan-bukan, tadi aku jalan di belakang kamu kok cukup jauh jarak kita, terus di belokan dekat kali tadi aku sempat lihat kalian dari jauh, karena kalian jalannya ngga begitu cepat akhirnya kesusul sama aku,” jawab cowok itu sembari melepaskan ranselnya yang lumayan gede.

“kamu sendirian?” tanya Windy lagi dia melihat keatas tampak temannya tengah berhenti menunggu dia.

“ngga kok aku bertiga sama temanku yang dua lagi istirahat di kali kecil tadi aku jalan terus aja karena belum begitu capek,” katanya sambil senyum pepsodent, “coba lepasin ransel kamu deh aku setting ulang” pinta dia, Windy melepaskan ranselnya. Si cowok itu lalu memperbaiki sabuk bahu ransel Windy mengencangkan tali-talinya,

“mhmm kendor nih settingannya, ransel kamu bagus nih bisa di setel back systemnya, kalo nyetelnya bener akan lebih enak dibawa” si cowok itu nyerocos dengan istilah yang tidak dimengerti Windy, karena dia sibuk memperhatikan wajah cowok yang tengah jongkok didepan ranselnya, wajah nya bersih rambutnya cukup lebat tapi terpotong rapi dan sebuah bandana berwarna merah terikat dikepalanya ala penyanyi Axel Rose dia mengenakan baju kaos warna hitam, dengan celana lapangan katun warna coklat.

Cakep juga selintas kata itu mencuat begitu saja di benak Windy, perawakan cowok ini tidak terlalu besar tapi ransel yang dibawanya melebihi tinggi kepalanya saat disandangnya. Bayangan cowok ini jauh banget dari gambaran pendaki gunung yang biasanya item, gondrong, dan penuh dengan aksesory entah gelang atau kalung.

“tuh dah kelar coba deh kamu pakai,” tiba-tiba suara si cowok itu membuyarkan ketermaguannya.

“eh ii..ya..” jawab Windy sedikit terbata. “nah gimana? Rada enakan kan?” tanya cowok itu begitu ransel sudah menempel di punggung windy, “mhmm iya, enak pas dan stabil” jawab Windy, “tadi itu tali pundak ransel kamu itu buat ukuran tubuh orang yang lebih tinggi dari kamu, jadi aku sesuaikan dengan tubuh kamu. Kalo pake ransel, dasar ransel itu posisinya diatas pantat, sabuk pinggang persis ditulang panggul, jadi kita ngga sakit makenya,” cowok itu nyerocos begitu aja menjelaskan apa yang telah dia kerjakan dan ini sangat menarik perhatian Windy. “oiii windy lama amat sih brentinya cepetan, jangan ngobrol sama orang yang ngga dikenal..!!!!” teriak si tomboy Lucy dari atas tanjakan tempat mereka berhenti.
“aku Bimo, nama kamu sapa?” ujar Bimo sambil mengurlurkan tangannya, “Windy” jawab Windy sambil membalas jabatan tangan Bimo yang terasa begitu kukuh. “Namanya bagus, Windy dari kata angin ya?” Windy hanya tersenyum dan kemudian beranjak hendak mulai menyusul teman-temannya, Bimo dengan tergesa-gesa memakai ranselnya dan berjalan mengikuti Windy dari belakang.
“Kok ngga nunggu teman kamu?” tanya Windy, “ntar aja di shelter itu” jawab dia sambil menunjuk ketempat dimana ke tiga teman-teman Windy tengah beristirahat.

“Ei.. cowok elo godain temen gue ya…!!” Lucy dengan galaknya menegor Bimo begitu mereka sampe, “ih Lucy dia bantuin benerin ransel gue tadi” tanpa disadari Windy kalimat pembelaan itu menluncur begitu saja dari bibir mungilnya. “wah dibelain ya, ya dah elo selamat kali ini ya” kata Lucy lagi masih tetap galak. “ampuuunnnn…” jawab Bimo sambil menunjukan mimik lucu dan ini kontak membuat pecah tawa teman-teman Windy termasuk juga Windy. Suasana hening hutan gunung gede pagi itu pecah oleh tawa mereka berlima. Bimo kemudian memperkenalkan dirinya pada teman-teman Windy. Dan merekapun larut dalam obrolan yang khas anak-anak pendaki gunung, sesekali Windy terus mengamati Bimo yang menurutnya sangat dewasa cara berbicara dan bersikapnya tapi ngga ngebosenin karena rada kocak juga.

Windy dan teman-temannya melanjutkan perjalanan, sementara Bimo masih menunggu kedua temannya di Shelter tersebut. “kita jalan pelan kok pasti keuber ntar sama kalian” kata Luna pada Bimo saat mereka mulai berjalan, Windy hanya tersenyum dan dibalas oleh Bimo.

Hari masih terbilang pagi, selama menunggu temannya ada beberapa kelompok pendaki yang melewati Bimo. Jalur pendakian dari Gunung Putri ini, terbilang lebih cepat dari pada jalur pendakian dari Cibodas jika hendak mencapai Gunung Gede, tapi kemiringan tanjakannya cukup curam dan membuat nafas para pendaki seperti berburu dengan langkah mereka. Tidak berapa lama kemudian kedua teman Bimo yaitu Teguh dan Lingga sudah datang dan tanpa beristirahat lagi mereka terus mendaki, mereka ingin segera sampai di alun-alun surya kencana yang merupaan lokasi tempat mereka akan menginap malam ini. Angin lembut berhembus menerpa wajah Bimo, “mhhmm sejuk nya angin ini sesejuk wajah Windy” gumam Bimo halus…..”eh lo ngomong apaan Bim?” tanya Lingga karena sepintas mendengar gumaman itu, “ah ngga, anginnya sejuk” jawab Bimo sambil terus melangkah, “Bim, jangan terlalu buru-buru ah, gue kurang tidur nih semalam, pelan dikit, santai aja. Kapan perlu kita istirahat dulu yok laper nih,” Teguh berucap sambil menurunkan ranselnya tanpa menunggu persetujuan kedua temannya terlebih dahulu. “ ah elo brenti mulu sih…” sungut Lingga, “ya udah kita brenti” lerai Bimo, dan akhirnya mereka pun santai lagi menikmati snack dan minuman buah segar yang ada dalam bekal mereka.

Mendekati pos bernama Buntut Lutung, kelompok Bimo menyusul kelompok Windy yang tengah santai istirahat, “tuh kan pasti kesusul, kalian jalannya cepet banget,” ujar Luna, Bimo berhenti sementara kedua temannya terus berjalan, “dah lama berhenti?” tanya Bimo. “ya,…iiiyalah…., masak iya dong…” sahut Lucy yang dengan nada bercanda dan jawaban ini membuat teman-teman Lucy lainnya termasuk Windy tersenyum.

“Bimo ayo…. Lanjut…!!” teriak Teguh dari atas tanjakan, “Ok, aku duluan ya, sampe ketemu di surya kencana” pamit Bimo kepada rombongan Windy dan melirik ke Windy yang tersenyum manis pada dirinya.

“Sapa Bim?” tanya lingga, saat Bimo menyusul mereka, tadi gue kenal dijalan, “gile gerak cepat juga lu.., kayak Kopasus..aja gerak cepat..” gurau Teguh sembari memukul bahu sahabatnya itu. “ya …iyalah.., masak iya dong” jawab Bimo menirukan jawaban gurauan Lucy tadi, dan tawa mereka pecah karena itu.

Surya kencana sore itu cerah sekali masih sekitar jam tiga sore, rombongan Windy bergerak melintasi padang rumput yang banyak ditumbuhi bunga Edelweiis, bunga abadi yang sering disimbolkan sebagai perlambang cinta abadi yang kebetulan memang lagi tengah musimnya. Begitu memasuki kawasan alun-alun ini semerbak wangi edelweiss seakan menyeruak memenuhi indera penciuaman mereka. “duuhhh wanginya…, duhhh indahnya..” Windy yang baru pertama kali merasakan sensasi keindahan alam bebas ini tidak henti-hentinya berucap kagum, “ya iyalah gue ngga bakal ngajak elo ke gunung yang jelek” kata Lucy sembari memeluk bahu sahabatnya ini, “makasih ya kakak….” Jawab Windy dengan nada menggoda. Mendekati daerah alun-alun barat, seseorang pakai jaket biru mendekati mereka, rupanya Bimo datang menyambut mereka ditangannya tampak terjijing satu teko serta gelas plastik, “selamat datang, kalian pasti haus, ini aku bawain teh manis anget, ayo…” ujar Bimo sembari menyodorkan gelas-gelas plastik tersebut pada mereka dan mengisinya dengan teh manis hangat. “aduhhhh.., kamu baik sekali..” kata Arri sambil melirik ke arah Windy. Karena sepanjang jalan pendakian tadi Windy habis digodain oleh teman-temannya karena Windy yang tadinya ngga bersemangat mendaki jadi sangat ingin untuk segera sampai di Surya kencana ini dan penyebabnya agaknya si cowok yang tengah berdiri didepan mereka ini.

“mau lagi?” tanya Bimo pada Windy, saat isi gelas Windy sudah kosong. “ngga makasih” jawab Windy. “Gimana capek ya? Hebat padahal kamu baru pertama kali ya kesini tapi bisa sampe sini jam segini.” Puji Bimo dengan nada yang sunguh-sungguh.

“terang aja ada dopingnya dia” jawab Lucy dengan jahil. Windy hanya tersenyum manis, dan sangat manissss sekali senyum itu dilihat Bimo.

Begitulah semenjak itu hubungan Bimo dan Windy terus belanjut hingga menjadi sepasang kekasih yang sangat saling mencinta, Windypun semakin menyukai kegiatan alam bebas, sering mereka melakukan pendakian bersama, entah berdua saja atau beramai-ramai dengan teman-teman mereka. Bimo yang ternyata romantis dan pintar menulis puisi ini selalu berusaha menyenangkan hati kekasihnya Windy, kepintaran Bimo dalam memasak di gunung juga menjadikan Windy semakin menyukai mendaki gunung dengan kekasihnya ini. Biasanya kalau dia dan teman-temannya camping pasti ngga lain menunya Indomie melulu, tapi dengan Bimo, dia bisa makan sayur asem, goreng tempe balado, dan menu rumahan lainnya. Dan bukan itu saja Bimo sangat ngemong dia, mungkin karena usia mereka cukup terpaut jauh dan ini membuat kedewasaan Bimo merupakan tempat bermanja-manja yang cocok sekali dengan Windy. Semantara bagi Bimo, Windy adalah sosok wanita yang sangat dia puja kelembutan pribadinya tapi keras hati dan tidak menyerah.

Suatu hari setelah setahun hubungan mereka, tepatnya seminggu sebelum valentine, Bimo menelpon Windy mengajaknya untuk ikut rafting dengan teman-teman kantornya. “kan musim hujan Bim” jawab Windy ragu, “tenang aja, debit airnya bagus kok, aku dah cek sama operatornya” hibur suara Bimo diseberang telpon. Dan akhirnya merekapun begabung dengan teman-teman kantor Bimo berarung jeram di sungai Citarik. Perjalanan yang sangat menyengkan itu rupanya harus menghadapi cerita yang pahit.

Pada awal mereka memulai pengarungan, debit air sangat normal dan setelah satu jam pengarungan bencana itu datang, tiba-tiba saja skipper mereka sepertinya pada berusaha untuk menepi, semua ada 8 perahu, tapi yang baru menepi 6 perahu. Perahu yang satu berhasil ditarik oleh tim rescue dengan tali lempar, arus yang tiba-tiba sangat deras menujukan debit air yang naik rupanya tengah terjadi hujan di hulu. Perahu yang ditumpangi oleh windy dan Bimo tidak sempat lagi mendapat tali lempar dan akhirnya harus melewati dua jeram yang tidak bisa dihindarkan lagi, sementara bunyi jeram yang besar itu bergemuruh siap menunggu mereka, dan benar saja saat memasuki jeram perahu tersebut terbalik seluruh penumpangnya tercebut kedalam jeram. Bimo yang sudah menduga hal ini berusaha untuk tidak melepaskan Windy hingga mereka berdua tercebur ke sungai, tali lempar dari tim rescue menyelamatkan mereka, dengan susah payah mereka melawan arus berenang ke pinggir, hanya satu orang yang belum terangkat karena dia terjebak di terjebak di batu dan berpenggangan disana, melihat ini Bimo bermaksud akan kembali menolong temannya itu, “jangan Bim.. please bahaya….” “tenang aja yang, aku kan pegang tali pengaman nih” ujar Bimo sambil menunjukan tali lempar tim rescue, dan kemudian diapun bergegas menceburkan diri ke sungai menolong temannya, dengan sigap dia melilitkan tali tersebut ke badan temannya, namun malang tak dapat di tolak untung tak dapat diraih sebuah lidah air yang cukup kuat merenggut dan menengelamkan mereka berdua, Windy mengigit bibir melihat kejadian itu, ujung lain dari tali lempar yang terhubung pada mereka berdua masih dipenggang erat oleh tim rescue dan tampak mengencang, tapi ternayta sosok yang muncul di ujung tali tersebut hanya satu orang, yaitu teman Bimo yang diselamatkan oleh Bimo. Bimo tidak ada. “Bimo…!!!!.., Bimo mana…? Mas… Bimo mana mas..” teriak Windy pada tim rescue yang menarik tali lempar tersebut. Sementara tim rescue yang lainnya berusaha mencari kebeberapa bagian sungai, nihil, tidak ada Bimo menghilang begitu saja ditelan oleh arus sungai citarik yang tengah menggila.

Sudah dua hari tim SAR melakukan penyisiran di lokasi hilangnya Bimo, tapi jenazah Bimo belum juga ditemukan, Windy yang tidak pernah menyerah selalu berada dilokasi menunggu jenazah kekasihnya untuk ditemukan, menginjak hari ketiga tanggal 14 February debit air sudah mulai normal kembali dan sekitar jam 3 sore jenazah Bimo ditemukan berjarak 50 meter dari tempat kejadian, menurut dugaan tim SAR jenazah Bimo yang masih mengenakan pelampung itu kemungkinan tersangkut dalam sebuah hole yang ada di dinding sungai dan karena arus yang kencang sewaktu debit air tinggi membuat jenazah tertahan didalam hole tersebut akibat tekanan dari arus air yang kencang.

Widy tidak bisa menahan kesedihan nya saat menyaksikan jenazah Bimo, tangisnya pun pecah seketika namun dia kemudian teringat betapa Bimo ingin dia selalu kuat menghadapi apapun dalam hidupnya, “Windy sepahit apapun hidup, kita harus kuat meskipun cobaan datang beruntun. Percaya aja Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya, jadi selalu tabah ya..” tergiang ucapan Bimo yang selalu dia ucapkan manakala Windy terlihat berputus asa menghadapi rintangan dalam hidupnya.

Tidak ada lagi Bimo yang dewasa, yang lucu yang baik yang pinter masak dan selalu siap menawarkan teh manis kesukaan Windy saat mereka nenda di gunung. Citarik telah merenggut kekasihnya tepat didepan matanya. Kejadian itu membuat Windy terobsesi dengan sungai ini, tepat dua bulan setelah kejadian itu Windy mendaftar untuk lowongan sebagai River Guide disalah satu operator Rafting di sungai Citarik dan setelah lulus seleksi akhirnya diapun didik menjadi seorang river guide wanita yang pertama di wilayah itu. Hari demi hari dia jalanin dengan mengarungi jeram demi jeram di sungai itu, kadang seperti terobsesi untuk mengalahkan sungai pembunuh kekasihnya itu, pada awalnya kebencian pada sungai ini membuat dia ingin terus menaklukan sungai ini pernah juga dia nekat mengarungi sungai dengan memakai perahu karet canoe saat debit air sedang tinggi, dan dia seperti menantang jeram yang membalikan perahunya dulu, tapi semua itu bisa dia lewati, dan akhirnya kebencian pada sungai ini berubah menjadi rasa suka dan cinta. Begitulah waktu terus berjalan dihari-hari senggangnya sering di merenung di sungai ini mengenang kekasihnya Bimo.

Hari ini sudah dua tahun Bimo tiada, hari ini hari valentine, hari yang sama saat ditemukannya jenazah Bimo, hanya bedanya tahun ini debit air jarang sekali bagus meskipun hujan di hulu tapi debit air tinggi tidak bertahan lama  mungkin karena hutan-hutan di hulu sungai sudah banyak yang gundul, akibatnya air lepas begitu saja.

Windy mengeluarkan secarik kertas dari tas kecilnya, kertas ini adalah puisi yang ditulis Bimo untuknya dulu

Windy,
Rindu itu kadang datang bagaikan sembilu
Mengiris dada mendatangkan ngilu
Tapi darah yang keluar semakin menghangatkan cintaku

Windy,
Rindu itu kadang datang bagaikan bayu
Membuai lembut merasuk kalbu
Membuat ku tak mau jauh darimu

Windy,
Aku rindu kamu….

         Kekasihmu, Bimo

Puisi itu ditulis Bimo saat dia tengah mendaki gunung Leuser bersama temannya dan sebelum masuk hutan Bimo menyempatkan diri mengirim puisi itu lewat kantor pos bukannya lewat email karena menurutnya tulisan tangan dia akan lebih bisa menyampaikan rasa rindunya. Mata Windy terasa menghangat,  ah Bimo… aku juga rindu sekali, batin Windy hatiku sepi Bimo sesepi riak Citarik hari ini.

"Windyyy…………ada tamu.. nyariin elo.. “ teriak Susi petugas frontdesk dari seberang sungai. Teriakan itu membangunkan Windy dari lamunannya. “Ya.!!” Sahut Windy sambil memasukan kembali secarik kertas itu dan menyeka matanya yang merebak basah. Bergegas dia meloncati batu kecil menuju tepian sungai dan menuju front desk, rupanya disana ada Luna, Anggi dan Lucy. “hey angin apa yang membawa kalian kesini,” ujar Windy setengah berteriak dan segera menghambur memeluk ketiga sahabatnya itu. “ya angin kangen lah sama elo masak angin badai” jawab Lucy masih dengan gaya khasnya, “Windy met valentine ya, kita ngga mau elo sedih dihari ini makanya kita datang” Anggi tersenyum saat mengucapkan kata-kata itu. “makasih ya” jawab Windy dan kembali matanya basah oleh genangan air mata. Terima kasih Tuhan kau telah memberikan sahabat-sahabat yang baik pada diriku.

Sementara riak Citarik terus mengalir bagai hidup yang terus bergulir. “Bimo selamat hari valentine ya” gumam Windy pelan sembari mengikuti ketiga sahabatnya menuju pinggiran sungai Citarik untuk duduk mengobrol bersama.


(cerita ini hanyalah fiksi belaka jika ada kesamaan nama dan tempat atau cerita dengan kejadian nyata itu hanyalah kebetulan saja)



Blog EntryDry = ComfortableFeb 22, '08 3:53 AM
for everyone

When choosing the right outerwear, remember this mantra: dry = comfortable. The best gear not only protects us from the elements, but also manages moisture and maintains proper heat balance to keep us dry, which is also an important element in staying warm. When we sweat, the perspiration that stays on our skin cools us down.  Breathable outerwear allows that moisture to evaporate rather than trapping it against the skin. This helps maintain a comfortable body temperature and keep the level of heat lost equal to the level of heat produced, which keeps us dry, and comfortable, from the inside out.

 

What is GORE-TEX® Fabric?

GORE-TEX® fabrics are created by laminating our GORE-TEX® membrane to high-performance textiles, then sealing them with an innovative solution for guaranteed waterproof protection.

 

Membrane

The GORE-TEX® membrane is the heart of all GORE-TEX® products. It contains over 9 billion microscopic pores square inch. These pores are 20,000 times smaller than a water droplet, but 700 times larger than a water vapor molecule, which makes the GORE-TEX® membrane completely waterproof from the outside, while allowing perspiration to escape from the inside. An oleophobic, or oil-hating, substance is integrated into the membrane, preventing the penetration of body oils and insect repellent that could otherwise affect the membrane.

 

Laminates

To construct a GORE-TEX® laminate, we bond the GORE-TEX® membrane between high-performance fabrics that are extremely breathable. All GORE-TEX® fabrics are waterproof, windproof, and breathable. However, there are many different outer fabrics and fabric constructions available so that you can choose what's most important to you: weight, texture, abrasion resistance, and so on.

 

Seam Sealing

Seams and stitching are essential aspects of a garment's construction. Unfortunately, they compromise the water and liquid protective properties of the fabric: seams and needle holes may be small, but they will still leak. That's why they must be completely sealed.

 

For absolute waterproofness and liquid resistance, our products rely on GORE-SEAM® TAPE. This unique tape, backed by reliable Gore equipment and know-how, ensures that every seam and tiny stitch hole is sealed.

 

Just as we constantly improve our fabrics, we continue to innovate taping and sealing technologies to improve garments by reducing their weight, refining their drape, and increasing their durability.

 

How does it work?

Subject other technical fabrics to hard use or frequent washing and they may quickly lose effectiveness. Not GORE-TEX® fabrics. Each one is designed to be durably waterproof, windproof, and breathable and maintain its performance for the life of the end product.

 

Waterproof

The microporous structure of the GORE-TEX® membrane is what makes GORE-TEX® fabrics completely waterproof. Each microscopic pore is about 20,000 times smaller than a drop of water, which means no external moisture - from rain to snow to that puddle you just stepped in - can penetrate the membrane.

Windproof

Shivering? It could be the windchill effect. This occurs when cold air penetrates your clothing, robbing heat from your body's sensitive microclimate. To keep you comfortable and protected in the windiest conditions, the GORE-TEX® membrane has been engineered to provide an impenetrable wind shield. Your product breathes, but wind stays out.

 

Breathable

The pores in the GORE-TEX® membrane are 700 times bigger than a water vapor molecule, so perspiration can easily evaporate through and you can stay dry from the inside out. Breathability is an important component of comfort when you are active.

 

(sumber web sites gore-tex)


Blog EntryMerawat jaket Gore-tex kesayangan andaFeb 21, '08 8:45 PM
for everyone

Dah mahal-mahal beli jaket gore-tex tapi ngga bisa merawatnya sayang banget, nih berikut tip cara merawat jaket berbahan Gore-tex, tapi berhubung lagi males terjemahin terjemahin sendiri ya.

It makes absolutely no sense to purchase expensive Gore-Tex® apparel if you don't know how to keep your apparel in great shape. Take care of your Gore-Tex® apparel and your Gore-Tex® apparel will take care of you. The following are some helpful hints and tips to help you maintain your Gore-Tex® apparel.
 
All Gore-Tex® apparel should be kept clean to maximize the efficiency of the apparel. Always read the instructions (which are sewn into any Gore-Tex garments) and follow the instructions carefully. If you treat your Gore-Tex® apparel with care, your apparel will last for a long time and will be efficient as the first day you purchased it.
 
Washing Instructions:
Most Gore-Tex® apparel can be machine washed in warm water with powdered detergent and tumble dry on medium heat. If you are washing kayaking apparel that has rubber gaskets (drysuit, paddling jacker, etc.), you should wash the apparel in a bathtub. Wash the drysuit every once in a while with special soap made specifically for Gore-Tex or the drysuit. Never wash the drysuit with any other soaps or chemicals that were not specifically made for a drysuit.
 
Leaks & Water Resistant:
If you notice the inside of the apparel becoming wet, there might be a leak with the Gore-Tex®. You might want to call Gore-Tex® or the apparel manufacturer directly to try to find out what can be done to fix the leak. The leak might located at a seam or it might be due to the Durable Water Repellent (DWR) that is on the outer surface of the Gore-Tex®. As the Gore-Tex® becomes older and the apparel is exposed to the elements, the DWR can start to wear off. You should launder the Gore-Tex® according to the instructions that come with the apparel and iron it using a warm steam setting. Eventually you might have to use the spray-on or wash-in water-repellant treatment to keep the Gore-Tex® waterproof. There are a number of wash-in products available for Gore-Tex®. Just make sure it is the right product for your kind of apparel and use the wash-in product as a last resort. Correctly washing the apparel and ironing the apparel will restore the water-resistance and breathability. Always check with the manufacturer of the apparel and Gore-Tex® directly before using any water-resistant product.
 
Make Sure That The Product Is Not Defective:
If the apparel feels heavy, appears wet on the inside, occurs condensation on the inside, etc., it might only be due to the DWR coating being warn off. Always try to restore the DFR by washing and ironing or washing in the water-resistant first before considering replacing the apparel.
 
Salt Water:
Contrary to popular belief, the salt water does not alter or harm the Gore-Tex® fabric. Always wash the Gore-Tex® with a hose or in a bath tub after every use and the Gore-Tex® will last for a long time.
 
Stains:
You may spray the stain with an aerosol pre-wash treatment. Wash the apparel immediately in warm water with powdered soaps. If the stain is tough, consult with Gore-Tex® directly before attempting to remove the stain.
 
Dry Cleaning:
If the Gore-Tex® is combined with silk, wool, etc., the apparel should only be dry cleaned. Do not dry clean any down apparel as the down feathers insulating properties will be removed.
 
Have fun backpacking and don't forget to take care of your Gore-Tex® when you return from paddling.

(dari berbagai sumber termasuk goretex.com)


Blog EntryAda yang unik di hari valentineFeb 13, '08 9:13 PM
for everyone

Valentines day atau hari kasih sayang ini dirayakan diseluruh dunia, toko-toko dan pusat perbelanjaan dirias dengan nuansa pink yang dikenal juga dengan warna cinta. Ada berbagai tradisi perayaan Valentines di dunia, namun satu yang menurut saya sangat unik yaitu perayaan valentines di Jepang. Kenapa saya bilang unik? Karena perayaan valentine di negeri sakura ini lebih cenderung cewek yang dominan dari pada cowok, bagaimana demikian? Begini lho,

 

Di Jepang perayaan valentine di rayakan dengan cara cewek-cewek memberikan coklat untuk cowok-cowok, sebagai bentuk perwujudan dari rasa kasih sayang mereka, dan bentuk coklat yang diberikan pun beragam, coklat untuk sahabat akan berbeda dengan coklat untuk kekasihnya, dan coklat tersebu juga tidak hanya diberikan pada teman laki-laki atau pacarnya tapi juga pada saudara laki-laki atau bapaknya. Pada hari valentine juga tak jarang dijadikan oleh cewek-cewek sebagai hari ajang buat nembak cowok yang dia suka, sudah pasti coklat yang diberikan pada pujaan hati yang akan dia tembak sangatlah istimewa. Dari sisi cowok, ini akan memberitahukan dia gimana perasaan cewek yang tengah deket sama dia saat ini, apakah dia sukanya sebagai pacar atau teman biasa atau malah ngga ada apa-apa. Itu terlihat dari bagaimana bentuk coklat yang dia terima jika coklat yang dia terima sangat istimewa baik dari segi bentuk dan harga pastilah tak pelak lagi si cewek cinta abiss sama dia, kalau hanya coklat biasa si cowok harus siap-siap kecewa karena ternyata si cewek hanya menganggap teman biasa, atau malah parahnya ngga ada coklat buat dia.

 

Nah tentunya para cewek juga ingin tahu bagaimana perasaan cowok yang dia taksir dan telah dia berikan coklat sangat istimewa di hari valentines kan? Bukan hanya itu cowok yang menerima coklat biasa atau coklat persahabatan sekalipun tetap harus membalasnya. Saya rasa perayaan berikut ini hanya ada di Jepang, tepatnya pada tanggal 14 Maret sebulan setelah hari valentine, hari tersebut disebut dengan “white day”, pada hari tersebut cowok-cowok memberikan coklat putih atau benda-benda yang berwarna putih pada cewek yang telah memberikan coklat padanya. Nah di hari white day ini para cewek yang telah memberikan coklat istimewa untuk nembak cowok yang dia suka akan tahu perasaan cowok itu, yaitu dari bentuk pemberian si cowok pada hari white day tersebut Kalau berupa coklat putih yang istimewa atau untaian kalung mutiara, cicin dan benda istimewa lainnya sudah pasti bisa ditebak mereka jadian deh…, tapi kalau hanya benda-benda biasa dan bahkan kejemnya ada cowok yang ngga ngasih sama sekali, itu dah pasti jawabannya tidak untuk cinta sang cewek. Nah bagi para cowok yang menjadi sahabat si cewek juga kudu balas pemberian coklat cewek yang menjadi sahabatnya pada 14 february lalu dengan benda-benda biasa yang berwarna putih pada hari  white day.

 

Nah bagi yang sedang berpacaran, sudah barang tentu coklat istimewa di hari valentine untuk si cowok dan benda istimewa berwarna putih di hari white day untuk si cewek mengisi hari-hari valentine dan white day mereka.

 

Pada perayaan hari valentine seperti biasalah restoran penuh hotel penuh, semua penuh dengan pasangan yang tengah berbahagia. Sewaktu saya bermukim disana sempat juga menerima coklat istimewa dan coklat biasa, juga sempat membalas semuanya di hari white day dengan benda istimewa dan juga pernah dengan benda yang biasa…

Ada berbagai cara untuk mengungkapakan kasih sayang dan cinta, tapi bagi saya kasih sayang dan cinta itu tidak harus hari ini saja tapi selamanya. Selama bisa bernafas sayangilah dan cintailah pasanganmu, keluargamu, dan sahabatmu…

 

Happy valentine day…… untuk semua…


Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help